Batang - Semangat pengabdian itu tak luntur meski seragam loreng telah dilepas. Hal itu dibuktikan oleh Pelda (Purn) Sudirman (54), purnawirawan TNI AD dari Kodim 0736Batang yang kini sukses menjadi petani cabai di Desa Cepokokuning Kabupaten Batang.
Batang - Semangat pengabdian itu tak luntur meski seragam loreng telah dilepas. Hal itu dibuktikan oleh Pelda (Purn) Sudirman (54), purnawirawan TNI AD dari Kodim 0736/Batang yang kini sukses menjadi petani cabai di Desa Cepokokuning Kabupaten Batang.
Setelah 33 tahun mengabdi untuk negara, pria yang akrab disapa Pak Dirman ini memasuki masa purna pada tahun 2025 lalu. Bukan menikmati masa pensiun dengan berdiam diri, ia justru memilih mencangkul dan mengelola lahan tidur seluas 1200 meter persegi di kebun milik anaknya menjadi kebun cabe yang produktif.
“Jiwa tentara itu tidak pernah pensiun. Dulu kami berdinas sebagai Batiwanwi di Staf Teritorial dari tahun 2015 sampai purna tugas 2025 di Program Ketahanan Pangan yang sehari-harinya melaksanakan kegiatan nyata dengan menanam padi, jagung dan cabai. Dulu dipercaya mendampingi kegiatan Ketahanan Pangan di wilayah Teritorial Kodim 0736/Batang, sekarang saya mempertahankan ketahanan pangan keluarga dan masyarakat,” katanya saat ditemui di kebunnya Desa Cepokokuning, Kabupaten Batang, Rabu (14/10/2026).
Terapkan Disiplin Militer di Kebun, uniknya, dalam bertani cabai, Pak Dirman tetap menerapkan prinsip-prinsip kemiliteran, yakni Terencana, Disiplin, dan Tanggung Jawab. Setiap hari, jam 05.30 WIB ia sudah berada di kebun, apel pagi diganti dengan pengecekan tanaman, penyiraman, dan pengamatan hama. Pemupukan dilakukan terjadwal setiap 7 hari sekali, persis seperti jadwal pemeliharaan senjata dulu.
“Saya perlakukan tanaman seperti prajurit, harus tepat waktu makannya, harus bersih lingkungannya, harus waspada terhadap musuh yaitu hama. Dulu, dari 1.700 tanaman cabai varietas cabai merah besar (CMB) yang ditanamnya, ia mampu memanen 25 kali petik. Dalam satu musim, hasilnya bisa mencapai hampir 1 ton cabe,” jelasnya.
Hasil panen pertama umur 76 hari, alhamdulillah per batang bisa 1 kg. Kalau harga bagus Rp 40 ribu per kilo, lumayan buat tambahan ekonomi dan bisa buka lapangan kerja buat 2 tetangga. Kini pak Dirman mengembangkan budi daya tanam cabainya yang dulu di tanam dipekarangan/kebun, sekarang meningkat sudah bisa menyewa lahan sawah seluas 2500 meter persegi dengan jumlah populasi 4500 tanaman cabai.
“Alhamdulillah yang tanam cabe dipekarangan/kebun hanya bisa memperkerjakan 2 orang, sekarang bisa mempekerjakan 5 orang,” ungkapnya.
Kendala yang dirasakan para petani dan pak Dirman saat ini adalah ketersediaan air, hal ini dikarenakan musim kemarau yang panjang. Namun ia sudah mengantisipasi untuk mengatasi kekurangan air dengan cara membuat tandon/penampungan air yaitu dengan menyiapkan drum-drum bekas aspal yang sudah diisi air.
Ia berkeyakinan dengan didasari niat yang tulus dan iklas "Bismillahirrahmanirrahim tanam cabe" di akir bulan Oktober ini InsyaAllah akan ada hujan.
“Semoga dengan menanam cabai ini saya bisa mewujudkan Ketahanan Pangan secara Mandiri/keluarga dan membantu pemerintah dalam rangka mengantisipasi Inflasi harga cabai dan bisa diikuti oleh petani di Desa Rowobelang dan Cepokokuning,” harapnya.
Salah satu buruh tani, Kasminah (50) merasa terbantu dengan dibukanya lahan penanaman cabai karena tentu sangat membantu suami memenuhi perekonomian keluarga. Meski saat ini kendala terbesar masa tanam saat kemarau adalah suplai air yang kurang namun ia tetap bersemangat bersama tujuh kawan buruh tani lainnya.
“Per hari biasanya Rp70 ribu sampai Rp75 ribu, Alhamdulillah cukup buat beli kebutuhan makan. Walaupun nggak setiap hari, tapi tetap ditekuni karena bisa membantu meringankan kebutuhan makan,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)