Batang - Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) memaparkan besarnya potensi investasi di sektor peternakan sapi perah. Saat ini, pasokan susu segar lokal baru mampu memenuhi sekitar 10 persen dari total kuota kebutuhan harian mitra industri pengolahan susu raksasa, PT Nestle Indonesia.
Batang - Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) memaparkan besarnya potensi investasi di sektor peternakan sapi perah. Saat ini, pasokan susu segar lokal baru mampu memenuhi sekitar 10 persen dari total kuota kebutuhan harian mitra industri pengolahan susu raksasa, PT Nestle Indonesia.
Kepala Bidang Peternakan Dispaperta Batang M. Arief Edyanto, menyatakan bahwa target pasokan susu segar ke Nestle mencapai 32 ton per hari. Namun, produksi lokal yang terintegrasi baru menyuplai sekitar 3 ton per hari.
“Terkait dengan kuota susu Nestle tadi kan 32 ton, kita baru mencukupi 3 ton sekitar sehari. Untuk menutup celah pasokan hingga 30 ton per hari, populasi sapi perah di Kabupaten Batang membutuhkan akselerasi bertahap. Berdasarkan kalkulasi teknis Dispaperta, diperlukan sekitar 3.000 ekor sapi laktasi (produktif) dengan asumsi rata-rata produksi 10 liter susu per ekor per hari,” katanya saat ditemui di Kantornya, Rabu (14/10/2026).
Kalau sekarang 300, (butuh) 3.000 yang laktasi. Dalam populasi biasanya dikalikan dua, jadi populasi yang kita harapkan itu sekitar 6.000 ekor, separuhnya di antaranya laktasi. Nanti akan terproduksi 3.000 kali 10 liter per hari, itu 30 ton.
“Kondisi ini membuka ruang pertumbuhan ekonomi yang sangat prospektif bagi masyarakat local maupun investor yang ingin membudidayakan sapi perah secara komersial,” jelasnya.
Di samping peluang rantai pasok industri skala besar, Arief menambahkan bahwa aktivitas peternakan mandiri di beberapa wilayah Batang sudah berjalan mapan. Seperti di wilayah Kecamatan Batang dan Warungasem, terdapat populasi sekitar 40 ekor sapi laktasi dengan kapasitas produksi mencapai 400 liter per hari yang dipasarkan secara mandiri ke konsumen langsung.
“Di Batang sama di Warungasem itu ada sapi perah yang menjual secara mandiri, tidak masuk ke Nestle. Itu sekitar 40-an ekor laktasi dan sehari bisa menghasilkan 400 liter. Mengingat pengembangan populasi ternak memerlukan proses pemuliaan dan kesiapan infrastruktur, Pemkab Batang menetapkan peta jalan jangka panjang secara bijaksana dan terukur tanpa bersikap instan,” terangnya.
Ia juga menyebutkan, rencananya kita targetkan 10 tahun untuk mencapai angka populasi 5.000 hingga 6.000 ekor stok secara bijaksana. Langkah strategis ini menjadi tantangan sekaligus peluang emas bagi para pelaku usaha lokal untuk bertransformasi dan mengakselerasi perekonomian daerah.
“Ini menjadi tantangan orang Batang untuk bisa mengakselerasi,” tandasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)