Batang - Sangaji, peternak lebah asal Desa Timbang, telah mengenal dunia perlebahan sejak duduk di bangku SMP pada 1995. Kecintaannya terhadap lebah berawal ketika ia membantu mengelola koloni lebah milik pamannya. Sejak saat itu, berbagai aktivitas terkait lebah mulai ia tangani sendiri, mulai dari perawatan hingga menentukan lokasi penempatan koloni.
Batang - Sangaji, peternak lebah asal Desa Timbang, telah mengenal dunia perlebahan sejak duduk di bangku SMP pada 1995. Kecintaannya terhadap lebah berawal ketika ia membantu mengelola koloni lebah milik pamannya. Sejak saat itu, berbagai aktivitas terkait lebah mulai ia tangani sendiri, mulai dari perawatan hingga menentukan lokasi penempatan koloni.
“Saya mengenal lebah sejak tahun 1995, pada waktu masih SMP. Dulu kita punya banyak, milik paman saya. Saya yang pegang sendiri. Pengalaman selama puluhan tahun membuatnya tetap bertahan di dunia perlebahan. Kini, ia juga menjadi salah satu pihak yang mewakili para peternak lebah di wilayahnya,” katanya saat ditemui di Desa Timbang, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Batang, Selasa (8/9/2026).
Kalau sekarang kondisinya, bisa dibilang saya sebagai perwakilan atau mewakili kawan-kawan. Ini kan juga milik kawan dan sebagainya ada di sini. Madu yang dihasilkan berasal dari nektar berbagai jenis tanaman. Jenis madu yang tersedia bergantung pada musim dan kondisi lingkungan tempat lebah mengambil nektar.
“Beberapa di antaranya adalah madu kaliandra, durian, rambutan, randu atau kapuk, serta kopi. Tergantung musimnya, dalam kondisi bagaimana kita bisa ambil nektar itu sendiri. Produksi madu rata-rata sekitar 3 kilogram per hari untuk kondisi tertentu. Madu tersebut kemudian dipasarkan secara daring maupun langsung kepada masyarakat di lingkungan sekitar,” jelasnya.
Ukuran kemasan yang tersedia juga beragam, mulai sekitar 300 mililiter hingga ukuran satu kilogram. Pemasaran secara online sempat membuat penjualan meningkat signifikan ketika pertama kali diluncurkan.
“Pada waktu awal-awal kita online launching, itu sampai banyak. Sampai ratusan botol untuk per bulan. Namun, saat ini penjualan berada di kisaran 50 botol per bulan. Salah satu keunggulan madu yang diproduksinya adalah proses pengolahan yang sederhana,” terangnya.
Madu diambil setelah lebah mengumpulkan nektar dan menyimpannya di dalam sarang. Setelah sarang terisi, madu dipanen tanpa melalui proses tambahan. Kita tidak memakai bahan macam-macam. Dari nektar itu sendiri diambil oleh lebah, dimasukkan ke sarang, setelah penuh kita ambil. Tanpa ada proses apa pun, murni masih dari alam,” ungkapnya.
Ia menyebut madu yang diproduksi memiliki kadar air minimal 22 persen. Produk madu tersebut diberi nama Akeh Guno, yang berasal dari bahasa Jawa dan memiliki arti "banyak manfaat".
“Nama Akeh Guno itu dari bahasa Jawa, akeh guno, banyak manfaat. Diharapkan produk kita memberi manfaat ke masyarakat. Pemasaran madu Akeh Guno kini tidak hanya menjangkau konsumen di Kabupaten Batang. Pembeli dari luar daerah justru menjadi pasar yang cukup besar.
Sejumlah pembeli berasal dari Jakarta dan berbagai daerah di luar Pulau Jawa, termasuk Kalimantan, Papua, hingga Sumatera,” ujar dia.
Yang banyak luar kota. Jakarta, bahkan luar pulau banyak yang memesan. Kalimantan, Papua, malah dari Sumatera pun yang di sana gudangnya madu, orang Sumatera juga ambilnya dari kita kalau pesan madu kayak gini.
“Permintaan tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan produk madu lokal Banyuputih sekaligus memperkenalkan hasil peternakan lebah dari Batang ke pasar yang lebih luas,” pungkasnya.
Ia berharap, usaha peternakan lebah yang telah ditekuninya sejak 1995 dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)