Batang - Kekayaan motif Batik Rifaiyah di Kabupaten Batang, belum seluruhnya teridentifikasi. Namun, sejumlah motif khas kini mulai sulit ditemukan seiring berkurangnya jumlah perajin yang mampu membuat pola-pola rumit.
Batang - Kekayaan motif Batik Rifaiyah di Kabupaten Batang, belum seluruhnya teridentifikasi. Namun, sejumlah motif khas kini mulai sulit ditemukan seiring berkurangnya jumlah perajin yang mampu membuat pola-pola rumit.
Salah seorang perajin Batik Rifaiyah Batang Nadhiroh mengatakan, pada era 1990-an terdapat sekitar 130 motif Batik Rifaiyah yang berkembang di kalangan perajin. Kini, diperkirakan hanya tersisa sekitar 30 motif yang masih dibuat.
“Kalau orang dulu bisa membuat sketsa batik yang susah-susah motifnya seperti Jamplang. Untuk sekarang kebanyakan hanya motif yang mudah seperti Pelowati,” katanya saat ditemui di Gang Randu, Kelurahan Watesalit, Kabupaten Batang, Senin (7/9/2026).
Nadhiroh mengatakan, dirinya telah mengenal proses membatik sejak usia 11 tahun. Empat tahun kemudian, saat berusia 15 tahun, ia mulai belajar mewarnai batik. Hingga kini, ia menguasai sejumlah motif khas Batik Rifaiyah, di antaranya Pelowati, Jeruk Noi, Gendakan, Petir, dan Romo.
“Keterampilan membatik yang diperolehnya sejak kecil terus dipertahankan. Namun, ia mengakui regenerasi perajin menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak muda saat ini cenderung tidak tertarik menekuni batik karena penghasilan dari membatik dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari,” jelasnya.
Anak-anak sekarang tidak mau membatik, karena secara finansial tidak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain persoalan regenerasi, proses pembuatan Batik Rifaiyah juga membutuhkan waktu yang tidak sebentar.
“Untuk satu lembar batik dengan bahan atau motif sederhana, pengerjaannya membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sementara untuk motif yang rumit dan membutuhkan pengerjaan halus, prosesnya dapat berlangsung tiga hingga empat bulan,” terangnya.
Meski menghadapi tantangan regenerasi, Nadhiroh menilai Batik Rifaiyah tetap memiliki nilai ekonomi, terutama jika mendapat perhatian dari kolektor. Ia menyebut kain Batik Rifaiyah dapat menjadi investasi apabila ada kolektor yang tertarik membeli dan menyimpan karya tersebut.
Pengalaman mengikuti pameran batik di Darwin, Australia, semakin memperkuat pandangannya tersebut. Pengalaman di Darwin memberikan kesan mendalam karena batik karya mereka sangat dihargai oleh warga lokal.
Ia berharap, kegiatan serupa dapat kembali digelar pada tahun-tahun berikutnya, termasuk adanya undangan lanjutan dari pihak konsulat. Selain memperluas pengenalan Batik Rifaiyah ke dunia Internasional, selain itu semoga generasi muda Batang mulai tertarik mempelajari seni membatik.
Secara perlahan, pengenalan tersebut dapat dilakukan sejak bangku sekolah, mulai dari SD, SMP hingga SMA. Dengan begitu, keterampilan membuat motif-motif lama yang semakin langka dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Harapannya generasi muda, siswa SD, SMP, SMA, tertarik untuk mempelajari seni membatik agar Batik Rifaiyah terus lestari dan semakin dikenal di tingkat dunia,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)