Batang - Batik Rifaiyah dari Kabupaten Batang, mendapat kesempatan untuk memperkenalkan karya dan tradisi membatik hingga ke Darwin, Australia. Kesempatan tersebut dimanfaatkan para perajin untuk mengenalkan keunikan motif Batik Rifaiyah sekaligus mendorong pelestarian batik warisan budaya yang kini semakin sedikit ditekuni perajin.
Batang - Batik Rifaiyah dari Kabupaten Batang, mendapat kesempatan untuk memperkenalkan karya dan tradisi membatik hingga ke Darwin, Australia. Kesempatan tersebut dimanfaatkan para perajin untuk mengenalkan keunikan motif Batik Rifaiyah sekaligus mendorong pelestarian batik warisan budaya yang kini semakin sedikit ditekuni perajin.
Perajin Batik Rifaiyah Batang Tri Handayani Mulyati mengatakan, dirinya mengikuti pameran dan workshop batik di Darwin bersama Nadhiroh selama sekitar 10 hari. Undangan ini bertujuan untuk mempromosikan batik dan melestarikan budaya Batik Rifaiyah agar tidak punah. Tri mengaku bukan warga asli Watesalit. Ia menetap di wilayah tersebut setelah menikah dengan warga setempat.
“Meski demikian, kecintaannya terhadap batik telah tumbuh sejak masih duduk di bangku sekolah dasar di Klaten. Saya memang bukan asli sini karena dapat suami di sini akhirnya tinggal dan menjadi warga sini. Tapi memang dari Sekolah Dasar saya sudah bisa membatik di Klaten,” katanya saat ditemui di Gang Randu, Kelurahan Watesalit, Kabupaten Batang, Senin (7/9/2026).
Setelah pindah ke Watesalit, Tri mulai mengenal Batik Rifaiyah. Ia melihat batik tersebut memiliki karakter yang berbeda dibandingkan batik pada umumnya. Ketertarikan itu semakin kuat setelah mengetahui sejarah dan keunikan yang melekat pada Batik Rifaiyah.
“Waktu pindah ke Watesalit pertama kali melihat Batik Rifaiyah memang sedikit berbeda dari batik lainnya. Dengan melihat sejarah dan keunikannya, akhirnya saya belajar membatik Rifaiyah,” jelasnya.
Menurut dia, proses pembuatan Batik Rifaiyah membutuhkan waktu cukup panjang, tergantung tingkat kerumitan motif yang dibuat. Untuk bahan atau motif yang relatif sederhana, satu lembar batik dapat diselesaikan sekitar satu bulan. Sementara untuk motif yang rumit dan membutuhkan pengerjaan lebih halus, prosesnya bisa mencapai tiga hingga empat bulan.
“Di tengah proses pembuatan yang membutuhkan ketelitian dan waktu panjang, jumlah perajin Batik Rifaiyah di wilayah tersebut justru terus mengalami penurunan. Dahulu terdapat sekitar 130 perajin yang menekuni Batik Rifaiyah. Kini, jumlah tersebut tersisa sekitar 35 orang,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan penting bagi para perajin untuk terus mengenalkan Batik Rifaiyah kepada masyarakat luas, termasuk melalui kegiatan pameran dan workshop di luar negeri.
“Dalam kegiatan di Darwin Australia, sejumlah motif Batik Rifaiyah turut diperkenalkan kepada masyarakat Australia. Motif yang dibawa antara lain Seno, Relawati, Relawati Keropotan, Beras Suta, Menir, Kendagan , Lancur, Liris, Tambal, dan Banji,” terangnya.
Tri menyebutkan, respons masyarakat Australia terhadap Batik Rifaiyah cukup positif. Semua batik yang kita bawa banyak diminati oleh warga Australia. Malahan mereka ingin belajar membatik Batik Rifaiyah.
“Ketertarikan tersebut menjadi peluang untuk memperkenalkan Batik Rifaiyah lebih luas sekaligus menjaga agar pengetahuan dan keterampilan membatik tetap diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujar dia.
Bagi para perajin, pameran dan workshop di Darwin bukan sekadar kesempatan untuk memperkenalkan produk batik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keberlangsungan tradisi Batik Rifaiyah agar tidak hilang. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)