Batang - Pemerintah Kabupaten Batang menegaskan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan Program Desa BRILiaN 2026 di Desa Mangunharjo, Kecamatan Subah. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pemerintahan desa, tata kelola BUM Desa, serta pengembangan produk unggulan yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Batang - Pemerintah Kabupaten Batang menegaskan komitmennya untuk mendukung keberlanjutan Program Desa BRILiaN 2026 di Desa Mangunharjo, Kecamatan Subah. Dukungan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas pemerintahan desa, tata kelola BUM Desa, serta pengembangan produk unggulan yang mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
Komitmen itu disampaikan dalam pertemuan antara Wakil Bupati Batang Suyono, Tim Pendamping Desa BRILiaN dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), dan Tim Desa Mangunharjo. Pertemuan membahas tindak lanjut agar Kampung Bengkoang berkembang menjadi kegiatan usaha yang terukur, berkelanjutan, dan melibatkan warga.
“Program Desa BRILiaN diharapkan dapat menjadi ruang penguatan kapasitas bagi pemerintah desa dan masyarakat dalam menggali serta mengembangkan berbagai potensi yang dimiliki. Produk unggulan desa tidak hanya dipandang sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai identitas dan kekuatan lokal yang perlu terus ditingkatkan kualitas, inovasi, serta pemasarannya,” kata Wakil Bupati Batang Suyono saat ditemui di Desa Mangunharjo, Kecamatan Subah, Kabupaten Batang, Rabu (19/8/2026).
Pemkab Batang siap memberikan dukungan melalui kolaborasi lintas perangkat daerah dan berbagai pemangku kepentingan. Pendampingan, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, penguatan kelembagaan, hingga perluasan akses pasar menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produk unggulan desa.
“Melalui sinergi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, BUMDes, pelaku UMKM, masyarakat, dan perbankan, produk-produk unggulan desa di Kabupaten Batang diharapkan mampu memiliki nilai tambah dan daya saing yang lebih kuat,” jelasnya.
Program Desa BRILiaN 2026 juga menjadi momentum untuk mendorong desa agar terus berinovasi dalam mengelola potensi yang ada. Dengan pengelolaan yang baik dan berkelanjutan, potensi lokal diyakini mampu memberikan manfaat nyata bagi peningkatan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat desa.
Bengkoang sebagai Identitas dan Pengungkit Ekonomi Desa
“Bengkoang tidak hanya menjadi salah satu komoditas pertanian unggulan, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai identitas desa sekaligus pengungkit perekonomian masyarakat. Melalui pengembangan yang berkelanjutan, bengkoang dapat memberikan nilai tambah, membuka peluang usaha, dan meningkatkan kesejahteraan warga,” terangnya.
Pemkab Batang juga mendukung pengembangan varietas lokal Bengkoang Mangunharjo yang memiliki keunggulan ukuran umbi lebih besar dibandingkan bengkoang dari sejumlah daerah lain. Dukungan diarahkan pada karakterisasi, penguatan mutu benih, penyiapan legalitas varietas lokal, serta budidaya yang konsisten agar keunggulannya dapat dijaga dan dikembangkan.
“Penguatan identitas produk turut diarahkan melalui branding Bengkoang MANGGALA - singkatan dari MANGunharjo, GAgasan Lokal BerdayA. Pengembangannya dilakukan secara terpadu melalui koordinasi lintas perangkat daerah, fasilitasi legalitas dan standardisasi, peningkatan kapasitas pengolahan dan kemasan, promosi digital, serta perluasan jejaring pemasaran,” imbuhnya.
Pendampingan menghasilkan fondasi tata kelola
Selama 10-15 Agustus 2026, Tim Pendamping Desa BRILiaN Unsoed bersama Pemerintah Desa Mangunharjo dan BUMDes SAE menyelesaikan sejumlah keluaran penting. Hasilnya mencakup tujuh rancangan perjanjian kerja sama dan analisis titik kritis, strategi pengelolaan Dana Desa, pembenahan laporan keuangan digital BUMDes, enam SOP operasional, peta potensi dan prioritas desa, rencana pengembangan usaha, serta rencana tindak lanjut inklusi keuangan BRI.
“Pendampingan juga menegaskan perlunya pemisahan tata kelola antara unit jamur tiram sebagai bagian dari ketahanan pangan dan pengembangan rantai usaha bengkoang sebagai kegiatan perdagangan. Pencatatan transaksi, kelengkapan bukti, evaluasi berkala berbasis laporan keuangan, serta kejelasan peran setiap pihak menjadi prasyarat agar usaha desa tumbuh sehat dan akuntabel,” tegasnya.
Sinergi untuk keberlanjutan
Suyono juga menyebutkan, Pemerintah Desa Mangunharjo bersama BUMDes SAE selanjutnya didorong untuk menjalankan rencana kerja 30, 60, dan 90 hari. Fokus awal meliputi penerapan SOP, pembenahan bukti transaksi pada sistem pencatatan BINAR, tindak lanjut kerja sama dengan calon mitra, penyiapan aspek legalitas benih, serta pengembangan pemasaran produk bengkoang secara bertahap.
“Pemkab Batang mendukung keberlanjutan Kampung Bengkoang, pengembangan varietas lokal Bengkoang Mangunharjo, serta hilirisasi menjadi produk bernilai tambah seperti keripik bengkoang. Sinergi ini diharapkan mengangkat harga dan daya saing komoditas, memperluas peluang usaha warga, dan menjadikan Mangunharjo contoh desa pertanian yang inovatif,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Jumadi)