Batang Bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Kedungsegog dengan produk unggulan Telur Asin Nusantara, penjualan telur asin adalah modal utama bagi mereka untuk pembelian pakan dan biaya pemeliharaan peternakan bebek yang dikelola secara mandiri oleh mereka. Hal ini menunjukkan bahwa keberlangsungan peternakan sangat bergantung pada penjualan telur asin di pasaran.
Batang – Bagi Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Desa Kedungsegog dengan produk unggulan “Telur Asin Nusantara”, penjualan telur asin adalah modal utama bagi mereka untuk pembelian pakan dan biaya pemeliharaan peternakan bebek yang dikelola secara mandiri oleh mereka. Hal ini menunjukkan bahwa keberlangsungan peternakan sangat bergantung pada penjualan telur asin di pasaran.
Namun, tim KKN menemukan satu titik lemah yang selama ini luput dari perhatian, yakni kemasan produk yang belum dikelola sebagai elemen branding. Mahasiswa Psikologi Universitas Diponegoro Semarang Permata Sarifazia Subakti menjelaskan, bahwa kemasan telur asin BUMDes selama in lebih berfungsi sebagai pelindung fisik produk saja. Belum ada elemen visual dan informasi yang cukup untuk membangin kepercayaan dan daya tarik di mata konsumen.
“Menjawab persoalan ini, mahasiswa mengusulkan program redesain kemasan produk telur asin BUMDes. Bersama dengan Wulan Rama Putri dari Ilmu Gizi, Ahmad Shafi Maulana dari Sastra Inggris, dan Verlyta Eka Novelasari dari Hukum, mahasiswa menambahkan empat elemen sekaligus, yaitu elemen visual branding, nutrition facts (informasi nilai gizi), informasi perlindungan konsumen, dan transliterasi bahasa untuk memperluas jangkauan pasar,” katanya saat ditemui di Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Rabu (19/8/2026)
Penambahan informasi nilai gizi dan informasi perlindungan konsumen sejalan dengan prinsip psikologi konsumen soal rasa aman dan kepercayaan.Konsumen cenderung lebih percaya pada produk yang transparan soal kandungan dan hak-hak mereka sebagai pembeli, terutama untuk produk pangan seperti telur asin.
“Sementara elemen transliterasi bahasa dihadirkan supaya produk ini punya peluang menjangkau pasar yang lebih luas, termasuk konsumen di luar wilayah yang terbiasa dengan istilah lokal. Setelah konsep dan elemen desain dirampungkan bersama, tahap selanjutnya adalah penyusunan desain kemasan yang kemudian disosialisasikan kepada pengurus BUMDes sebagai kelompok sasaran utama program ini,” jelasnya.
Direktur BUMDes Telur Asin Desa Kedungsegog Lufni memberikan umpan balik yang memuaskan. Menurutnya, kemasan baru tersebut membuat produk telur asin desa terlihat lebih profesional dan siap bersaing dengan produk sejenis di pasar yang lebih luas.
Ia berharap, perubahan kemasan ini dapat membantu meningkatkan penjualan sekaligus memperkenalkan Telur Asin Nusantara ke konsumen di luar Desa Kedungsegog.
“Program redesain kemasan ini juga selaras dengan dua Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) sekaligus, yaitu SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dan SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur). Melalui penguatan branding dan daya saing produk, program ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal berbasis usaha mikro desa, sekaligus mendorong inovasi dalam pengelolaan produk pangan tradisional agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas,” ujar dia.
Melalui program ini, mahasiswa KKN TIM II UNDIP berharap redesain kemasan tidak hanya berdampak pada tampilan produk, tetapi juga pada keberlangsungan usaha BUMDes secara keseluruhan. Sebab pada akhirnya, setiap peningkatan penjualan telur asin turut menopang keberlangsungan peternakan bebek yang menjadi fondasi seluruh usaha BUMDes ini. (MC Batang, Jateng/Sarifazia/Jumadi)