Batang - Pengelolaan perpustakaan desa yang terstruktur menjadi kunci utama dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak. Menyadari pentingnya hal tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari program studi Informasi dan Hubungan Masyarakat Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Elsa Aprilina Wijayanti melaksanakan program pendampingan pengelolaan Perpustakaan di Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Rabu (1982026).
Batang - Pengelolaan perpustakaan desa yang terstruktur menjadi kunci utama dalam meningkatkan minat baca masyarakat, khususnya anak-anak. Menyadari pentingnya hal tersebut, Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari program studi Informasi dan Hubungan Masyarakat Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Elsa Aprilina Wijayanti melaksanakan program pendampingan pengelolaan Perpustakaan di Desa Kedungsegog, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Rabu (19/8/2026).
Sebelumnya, Perpustakaan Desa Kedungsegog menghadapi beberapa kendala operasional, seperti belum tersedianya format resmi pencatatan peminjaman dan pengembalian buku, serta penataan koleksi yang masih bercampur antara buku fiksi dan nonfiksi.
Elsa merancang serangkaian langkah sistematis untuk meningkatkan pengelolaan dan kualitas layanan perpustakaan sebagai upaya mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 4, yaitu Pendidikan Berkualitas.
“Sistem sirkulasi terstruktur dengan membuat format resmi pencatatan peminjaman dan pengembalian buku untuk memudahkan pustakawan mengontrol alur keluar-masuknya koleksi secara rapi dan akurat. Pemilahan dan Klasifikasi Koleksi dengan Memisah koleksi buku fiksi dan nonfiksi yang sebelumnya bercampur. Koleksi buku di Perpustakaan Desa Kedungsegog didominasi oleh cerita anak, sehingga pemilahan ini berfokus pada pengelompokan buku fiksi anak ke dalam rak,” jelasnya.
Implementasi Sistem Labelisasi Berbasis Level dengan memanfaatkan tanda level yang berada di pojok kiri bawah setiap buku cerita anak. Elsa mengelompokkan koleksi berdasarkan tingkat keterbacaan (reading level) dan menempelkan label petunjuk pada setiap rak. Sistem ini memudahkan anak-anak menemukan buku yang sesuai dengan kemampuan membaca mereka secara bertahap.
Elsa berpendapat "Penataan buku berbasis level ini dirancang agar anak-anak di Desa Kedungsegog dapat mengasah kompetensi membaca dan memahami isi buku secara bertahap sesuai dengan tingkatan usianya."
“Sebagai bentuk keberlanjutan program, diserahkan poster edukatif kepada pengelola perpustakaan. Poster ini berfungsi sebagai panduan visual bagi pustakawan atau pengelola dalam mengarahkan anak-anak saat memilih bacaan yang sesuai dengan kelompok usianya,” ujar dia.
Dengan hadirnya program ini, diharapkan Perpustakaan Desa Kedungsegog dapat menjadi ruang baca yang lebih ramah anak, terstruktur, serta mampu meningkatkan literasi masyarakat desa secara berkelanjutan. (MC Batang, Jateng/Elsa/Jumadi)