Batang - Keluarga Muhammad Raeza Afkarian (3), bocah asal Desa Kemesu, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, akhirnya meluruskan simpang siur informasi yang viral di media sosial terkait dugaan penanganan korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Batang - Keluarga Muhammad Raeza Afkarian (3), bocah asal Desa Kemesu, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, akhirnya meluruskan simpang siur informasi yang viral di media sosial terkait dugaan penanganan korban keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sang ibu, Nafiatul Karomah (26), mengaku terkejut ketika mendengar kabar bahwa keluarganya disebut-sebut terlantar dan tidak mendapatkan pelayanan medis secara layak.
"Kalau soal berita itu saya sendiri pun tidak tahu, ada berita yang viral di sosial media. Saya tidak bermain Facebook, saya juga malah dikasih tahu sama kerabat saya yang lihat postingan itu," ungkap Nanti saat ditemui di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Limpung, Kabupaten Batang, Selasa (6/10/2026).
Meski merasa dirugikan oleh informasi sepihak yang beredar luas di jagat maya, Nafiatul memilih tak ambil pusing dan memilih fokus sepenuhnya pada pemulihan kesehatan sang buah hati.
"Iya merasa dirugikan, tapi ya bagaimana ya, soalnya sudah viral, terus juga keadaan anak saya seperti ini, saya cuma fokus sama kesehatan anak," jelasnya.
Ia menegaskan hanya pernah bercerita kepada keluarga terdekat saja, serta berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat, tanpa pernah mengunggah keluhan ke platform media sosial mana pun.
Sementara, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang Mei Erawati, meluruskan kronologi kejadian guna menepis narasi negatif yang beredar.
Mei menjelaskan kejadian bermula pada 23 September lalu, ketika Raeza berkunjung ke rumah kerabatnya di Bawang dan mengonsumsi tiga suap telur dari porsi MBG. Saat gelombang dugaan keracunan massal terjadi, fasilitas kesehatan publik memang mengalami lonjakan pasien yang signifikan.
"Waktu ada kejadian rame-rame keracunan, informasi begitu, Mas Esa enggak bisa ditangani di Puskesmas karena penuh. Kemudian dibawa dengan mobil pribadi ke Rumah Sakit Limpung, juga penuh. Akhirnya ke LMC (Limpung Medical Center)," terangnya.
Ia menambahkan, langkah keluarga membawa pasien ke fasilitas swasta, murni didasari keinginan agar balita tersebut segera mendapatkan pertolongan cepat tanpa harus mengantre lama.
“Mengenai biaya perawatan mandiri di klinik swasta tersebut yaitu sebesar Rp2.310.000,00. Kita pastikan seluruhnya akan diganti oleh pihak penyelenggara,” tegasnya.
Mei mengatakan, untuk yang di LMC sudah ada komunikasi dengan SPPG dan akan diganti sepenuhnya dari mitra.
“Kemudian, untuk pembiayaan hari ini, karena sudah bukan kasus MBG lagi (diagnosa berbeda), ini bisa diklaimkan dari BPJS," imbuhnya.
Saat ini kondisi kesehatan balita Raeza telah membaik di bawah perawatan tim medis. Pihak keluarga menyatakan seluruh persoalan dan kesalahpahaman informasi telah diselesaikan secara kekeluargaan. (MC Batang, Jateng/Edo/Ardhy)