Batang Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (Undip) Semrang melaksanakan rangkaian program pendampingan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ikan asap di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang.
Batang – Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Universitas Diponegoro (Undip) Semrang melaksanakan rangkaian program pendampingan bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ikan asap di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang.
Mahasiswa Fakultas Psikologi Undip Semarang Alisha Naila Nur Rahadiant mengatakan, program ini digagas sebagai respons atas kondisi UMKM ikan asap Desa Jrakahpayung yang masih dikelola secara tradisional, mulai dari tampilan lapak yang sederhana, minimnya identitas usaha, hingga pola pikir pelaku usaha yang cenderung pasrah menghadapi masa sepi pembeli. Padahal, produk ikan asap desa ini telah dikenal memiliki kualitas rasa yang baik dan potensi pasar yang cukup luas.
“Sebelum merancang program, tim KKN terlebih dahulu melakukan survei ke sejumlah UMKM ikan asap guna memetakan kondisi usaha, mulai dari aspek pemasaran, pengemasan, hingga kualitas air produksi yang digunakan,” katanya saat ditemui di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Selasa (18/8/2026).
Melalui presentasi bertajuk "Dari Dilihat, Jadi Diingat", yang menjelaskan bagaimana kesan pertama terhadap tampilan lapak, kejelasan identitas usaha, hingga informasi produk yang mudah dilihat dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk mengenali dan mengingat suatu usaha.
“Priming effect itu sederhananya soal bagaimana kesan pertama membentuk ingatan konsumen. Kalau lapaknya mudah dikenali, informasinya jelas, dan gampang dicari lagi, peluang pembeli untuk balik lagi jadi lebih besar. Makanya kami dorong pelaku usaha untuk mulai dari hal-hal kecil dulu, seperti punya nama usaha yang jelas dan tampilan produk yang rapi,” jelasnya.
Pada rangkaian yang sama, tim KKN-R Desa Jrakahpayung turut menyerahkan sejumlah media pendampingan lain kepada pelaku UMKM ikan asap, di antaranya banner identitas usaha, label nutrition facts atau informasi nilai gizi produk, serta hasil pengujian kualitas air yang digunakan dalam proses produksi. Ketiga media ini disusun untuk saling melengkapi upaya penguatan daya saing UMKM, baik dari sisi branding, kepercayaan konsumen terhadap kandungan gizi produk, maupun jaminan higienitas proses produksi.
Alisha juga menyerahkan leaflet edukasi kepada pelaku UMKM yang memuat ringkasan materi psikologi konsumen serta pengenalan konsep growth mindset. Leaflet ini dirancang sebagai pengingat sederhana bagi pelaku usaha yang masih menjalankan usahanya secara tradisional, agar mulai terbuka terhadap cara berpikir baru dalam mengembangkan usaha, mulai dari berani mencoba hal baru, belajar dari masukan pembeli, hingga tidak mudah menyerah saat usaha sedang sepi.
Salah satu pelaku usaha ikan asap Sugiati yang menjadi lokasi kegiatan, menyampaikan apresiasinya atas pendampingan yang diberikan mahasiswa. “Kami jadi lebih paham cara menata lapak dan mempromosikan usaha biar lebih dikenal pembeli. Materinya juga gampang dimengerti, enggak terlalu berat,” ujar dia.
Kegiatan ini turut mendukung pencapaian sejumlah tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) melalui penguatan kapasitas dan daya saing UMKM sebagai penggerak ekonomi desa, SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui pendampingan inovasi branding dan promosi usaha, serta SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) melalui edukasi informasi gizi dan jaminan kualitas air produksi bagi konsumen. (MC Batang, Jateng/Alisha Naila/Jumadi)