Batang - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menyelenggarakan program edukasi budaya kerja Jepang bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ikan asap. Program ini bertujuan untuk memperkenalkan nilai-nilai budaya kerja Jepang yang dapat diterapkan secara sederhana dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari sosialisasi dan pembagian banner kepada pelaku UMKM ikan asap yang dilaksanakan pada 6 Agustus 2026, sebagai salah satu bentuk pendampingan terhadap UMKM yang menjadi salah satu potensi usaha lokal di Desa Jrakahpayung.
Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip Semarang Noor Annisa Hanan Darojah mengatakan, melalui program tersebut, pelaku UMKM diperkenalkan dengan beberapa nilai budaya kerja Jepang, seperti kedisiplinan, kebersihan, ketelitian, tanggung jawab, serta konsep 5S (Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, dan Shitsuke). Nilai-nilai tersebut disampaikan melalui buku panduan dalam bentuk brosur/leaflet agar lebih mudah dipahami dan diterapkan oleh pelaku UMKM.
“Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan tambahan wawasan bagi pelaku UMKM ikan asap Desa Jrakahpayung dalam meningkatkan keteraturan, kebersihan, dan kualitas proses kerja, sekaligus menjadi bentuk penerapan ilmu Bahasa dan Kebudayaan Jepang dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat,” katanya saat ditemui di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Selasa (18/8/2026).
Program ini lahir dari pengamatan bahwa UMKM ikan asap di Desa Jrakahpayung memiliki potensi usaha dan karakteristik lokal yang dapat terus dikembangkan. Namun, penerapan kebiasaan kerja yang teratur, bersih, dan efisien di lingkungan usaha tersebut dinilai masih perlu ditingkatkan. Para pelaku UMKM pun membutuhkan informasi sederhana mengenai budaya kerja yang dapat diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari, khususnya dalam menjaga kerapian, kebersihan, kedisiplinan, dan konsistensi kerja.
Noor Annisa juga mengungkapkan, bahwa pemilihan konsep budaya kerja Jepang bukan tanpa alasan. Budaya kerja Jepang, terutama konsep 5S, itu sederhana tapi dampaknya besar untuk keteraturan dan efisiensi usaha. Kami ingin pelaku UMKM ikan asap di sini punya panduan praktis yang mudah dipahami dan langsung bisa diterapkan di tempat usaha mereka.
“Kegiatan diawali dengan observasi dan wawancara bersama pelaku UMKM ikan asap untuk mengetahui kondisi tempat usaha, kebiasaan kerja, serta kebutuhan informasi mengenai budaya kerja. Data yang diperoleh kemudian dijadikan dasar penyusunan materi panduan budaya kerja Jepang yang disesuaikan dengan kondisi UMKM setempat,” jelasnya.
Materi tersebut berfokus pada konsep 5S, yaitu Seiri (Ringkas) untuk memilah barang yang diperlukan dan tidak diperlukan, Seiton (Rapi) untuk menata alat dan bahan agar mudah ditemukan, Seiso (Resik) untuk menjaga kebersihan area dan peralatan kerja, Seiketsu (Rawat) untuk mempertahankan kebersihan dan keteraturan secara konsisten, serta Shitsuke (Rajin) untuk membiasakan kedisiplinan kerja secara terus-menerus.
“Materi tersebut kemudian dirancang dalam bentuk buku panduan berupa brosur/leaflet yang dilengkapi contoh penerapan 5S dalam kegiatan produksi ikan asap agar mudah dipahami dan diterapkan. Brosur/leaflet tersebut selanjutnya diserahkan dan dijelaskan secara langsung kepada pelaku UMKM sebagai bahan edukasi sekaligus panduan praktis dalam menjaga kerapian, kebersihan, dan keteraturan tempat usaha,” terangnya.
Salah satu pelaku UMKM ikan asap Desa Jrakahpayung Kunaenah mengaku terbantu dengan adanya panduan tersebut. “Panduannya ringkas dan gampang dimengerti, contohnya juga langsung sesuai dengan kegiatan kami sehari-hari mengasap ikan. Semoga ini bisa membuat tempat usaha kami lebih rapi dan tertata,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Desa Jrakahpayung Amat Rozikin, turut menyampaikan apresiasi atas program ini. “Kami berterima kasih atas perhatian adik-adik mahasiswa KKN kepada pelaku UMKM di desa kami. Semoga panduan budaya kerja ini bisa membuat usaha ikan asap warga semakin rapi, bersih, dan berkembang,” ujar dia.
Program ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-8, Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, karena mendorong peningkatan produktivitas dan keteraturan kerja pada usaha rumahan berbasis potensi lokal desa. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi bekal awal bagi pelaku UMKM ikan asap untuk mengelola usahanya secara lebih tertata dan berkelanjutan. (MC Batang, Jateng/Noor Annisa/Jumadi)