Batang - Ancaman penyakit genetik thalassemia di Kabupaten Batang terus mendapat perhatian serius. Guna menekan angka penderita baru, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang merangkul Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Batang untuk mengintegrasikan screening thalassemia ke dalam program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di 21 Puskesmas.
Batang - Ancaman penyakit genetik thalassemia di Kabupaten Batang terus mendapat perhatian serius. Guna menekan angka penderita baru, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang merangkul Perhimpunan Orang Tua Penyandang Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Batang untuk mengintegrasikan screening thalassemia ke dalam program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di 21 Puskesmas.
Langkah strategis ini dibahas dalam Rapat Koordinasi dan Advokasi Pelaksanaan PKG di Aula Dinkes Batang, Kabupaten Batang, Selasa (11/8/2026). Melalui kerja sama ini, layanan PKG di tingkat Puskemas tidak lagi sebatas pemeriksaan umum, melainkan difokuskan pula pada deteksi dini kelainan darah tersebut.
Kepala Dinkes Batang Ida Susilaksmi menegaskan, pentingnya perluasan fungsi PKG untuk menjangkau masyarakat lebih luas. Harapan kami, kegiatan PKG ini bisa dikolaborasikan dengan screening thalassemia. Karena thalassemia masih menjadi masalah di Indonesia, bahkan di Kabupaten Batang juga masih cukup banyak penderitanya.
“Deteksi dini ini dilakukan melalui prosedur tes darah sederhana, mencakup pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dan complete blood count (CBC). Demi kelancaran program di lapangan, Ida menginstruksikan para petugas teknis di seluruh Puskesmas untuk memberikan dukungan penuh,” jelasnya.
Mohon bantuan dari teman-teman semua, programmer PTM Keswa di Puskesmas untuk meluangkan waktu melakukan pengambilan darah untuk screening thalassemia.
Pentingnya Pemeriksaan Pranikah dan Penghentian Stigma
Thalassemia merupakan penyakit keturunan yang menyerang sistem pembentukan hemoglobin. Jika pasangan suami istri sama-sama membawa sifat (carrier), risiko melahirkan anak dengan thalassemia mayor akan sangat tinggi. Oleh sebab itu, pemeriksaan kesehatan sejak usia remaja hingga fase menjelang pernikahan menjadi krusial.
“Screening kesehatan pranikah itu penting. Kalau diketahui sejak awal, sejak anak-anak maupun remaja, harapannya kita bisa berkontribusi dalam upaya pencegahan bertambahnya kasus thalassemia di Kabupaten Batang,” terangnya.
Di samping deteksi medis, Ida menyoroti pentingnya penerimaan sosial bagi para penderita. Ia mengimbau masyarakat untuk menghentikan pandangan miring terhadap para penyandang thalassemia.
“Penderita thalassemia itu tidak butuh dikasihani dalam arti pandangan negatif, tetapi butuh dukungan positif dari kita semua. Butuh dukungan, butuh diterima,” tegasnya.
Bahaya Latent Pembawa Sifat (Carrier)
Dukungan medis atas langkah Dinkes ini disampaikan oleh dokter spesialis anak RSUD Batang sekaligus pembina POPTI Batang Tan Evi Susanti. Ia memaparkan bahwa kelainan pada hemoglobin menyebabkan sel darah merah penderita menjadi rapuh dan mudah rusak, yang berujung pada anemia kronis.
“Bahwa banyak orang tidak sadar dirinya merupakan pembawa sifat (carrier atau thalassemia minor) karena tidak menunjukkan gejala klinis yang berat. Pembawa sifat atau carrier bisa saja tidak menunjukkan kondisi seperti penderita thalassemia mayor. Karena itu, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui status seseorang,” ungkapnya.
Pada tingkat thalassemia mayor, pasien harus bergantung pada prosedur transfusi darah seumur hidup yang dilakukan rutin setiap dua hingga empat minggu. Dampaknya tidak main-main, mulai dari anemia berat, wajah pucat, pembesaran organ hati dan limpa, hingga gangguan tumbuh kembang.
“Tak hanya itu, prosedur transfusi yang berulang memicu penumpukan zat besi berbahaya di dalam tubuh, sehingga pasien wajib menjalani terapi kelasi besi untuk mencegah komplikasi organ,” pungkasnya.
Mengingat beratnya penanganan medis tersebut, edukasi mengenai screening darah sebelum menikah kini menjadi prioritas utama kolaborasi Dinkes dan POPTI, yang juga gencar disosialisasikan hingga ke sekolah-sekolah tingkat SMA di Kabupaten Batang. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)