Batang Kemarau panjang mulai memengaruhi ketersediaan bahan pakan ternak di Kabupaten Batang. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian bahan pakan berasal dari limbah hasil pertanian, seperti tebon jagung, hijauan tanaman, hingga bekatul. Ketika produksi pertanian menurun akibat keterbatasan air, pasokan bahan pakan ternak ikut terdampak.
Batang – Kemarau panjang mulai memengaruhi ketersediaan bahan pakan ternak di Kabupaten Batang. Kondisi tersebut terjadi karena sebagian bahan pakan berasal dari limbah hasil pertanian, seperti tebon jagung, hijauan tanaman, hingga bekatul. Ketika produksi pertanian menurun akibat keterbatasan air, pasokan bahan pakan ternak ikut terdampak.
Kepala Bidang Peternakan Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Batang M. Arief Edyanto mengatakan, kondisi tersebut telah diantisipasi peternak dengan menyediakan pakan awetan. Ketika musim paceklik yang biasanya terjadi pada musim kemarau, kita sudah siap-siap menandon dalam bentuk awetan segar atau silase, awetan kering yang namanya hay, ataupun pakan jadi pabrikan.
Peternak telah mendapatkan edukasi mengenai pengolahan hijauan menjadi silase melalui proses fermentasi. Pakan tersebut kemudian disimpan untuk digunakan ketika ketersediaan hijauan mulai terbatas. Pada waktu panen disimpan untuk beberapa hari ke depan. Jadi mereka sudah diajari pengolahan pakan dan itu sudah diantisipasi,” katanya saat ditemui di Kantor Dispaperta Batang, Kabupaten Batang, Rabu (7/10/2026).
Selain silase dan hay, pakan jadi dari perusahaan juga menjadi salah satu alternatif untuk menjaga ketersediaan pakan selama musim paceklik. Sejumlah perusahaan pakan yang menjadi sumber pasokan berada di Solo dan Pati.
“Stok pakan jadi di perusahaan-perusahaan itu yang biasanya mem-backup pasokan di musim paceklik, khususnya pakan ternak. Dengan adanya pengolahan dan penyimpanan pakan, produktivitas ternak tidak terlalu signifikan dibandingkan kondisi normal. Di sisi lain, potensi produksi susu sapi perah di Batang masih terbuka lebar. Saat ini, produksi susu yang masuk ke jaringan penyerapan Nestlé baru sekitar 3 ton per hari,” jelasnya.
Padahal, kapasitas penyerapan Nestlé disebut mencapai sekitar 32 ton susu per hari. Kalau bisa, monggo dicukupi 32 ton itu, dikejar. Sampai titik ini terdata sekitar baru mencapai 3 ton per hari. Produksi tersebut berasal dari sekitar 300 ekor sapi dengan produktivitas rata-rata sekitar 15–20 liter susu per ekor per hari.
“Dengan demikian, produksi yang tersedia saat ini baru memenuhi sekitar 10 persen dari kapasitas penyerapan tersebut. Namun, tidak seluruh peternak sapi perah di Batang memasok susu ke Nestlé. Sebagian peternak di wilayah Batang dan Warungasem memilih menjual hasil produksinya secara mandiri,” terangnya.
Arief menyebut terdapat sekitar 40 ekor sapi laktasi yang dikelola secara mandiri di wilayah tersebut dengan produksi mencapai ratusan liter per hari. Terkait dampak kemarau terhadap produktivitas susu, Arief mengatakan sejauh ini pengaruhnya belum signifikan.
“Meski demikian, kondisi pakan tetap menjadi perhatian karena kualitas hijauan pada musim kemarau berbeda dengan musim penghujan. Secara umum tidak signifikan. Tetap ada pengaruh, mungkin sedikit, tidak terlalu berpengaruh. Penggunaan silase sebagai pakan pengganti memungkinkan kebutuhan nutrisi ternak tetap dipertahankan. Namun, kualitas silase dapat mengalami penurunan seiring lamanya masa penyimpanan,” imbuhnya.
Silase itu akan turun kualitasnya mengikuti lamanya penyimpanan. Semakin lama terjadi penurunan kualitas silase dari sisi kualitas hijauannya, proteinnya turun, karbohidratnya turun. Meski demikian, penurunan kualitas tersebut dapat ditekan melalui formulasi pakan yang tepat sehingga kebutuhan protein dan unsur gizi ternak tetap terjaga.
“Untuk menjaga ketersediaan pakan, Dispaperta mendorong peternak memiliki tempat penyimpanan atau gudang pakan. Langkah tersebut penting agar pakan yang telah dipanen saat ketersediaan hijauan masih cukup dapat disimpan dan digunakan ketika memasuki masa paceklik,” tegasnya.
Arief menegaskan, strategi tersebut bukan berarti kekurangan air langsung digantikan dengan jenis makanan tertentu. Namun, kemarau berpotensi menyebabkan paceklik pakan, sehingga peternak harus memiliki cadangan. Tema utamanya kekeringan mengakibatkan paceklik pakan. Artinya kedaruratan atau keterbatasan pakan. Sektor peternakan sudah sedemikian mengantisipasi.
“Selain dari peternak, dukungan pasokan pakan jadi juga telah disiapkan, termasuk melalui jaringan perusahaan yang menjadi mitra. Upaya tersebut diharapkan mampu menjaga ketersediaan pakan sekaligus mempertahankan produktivitas sapi perah selama kemarau panjang berlangsung,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)