Batang - Maraknya pembangunan perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto turut mendongkrak kebutuhan pasokan air bersih di Kabupaten Batang. Menanggapi lonjakan pemukiman baru tersebut, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Sendang Kamulyan memastikan ketersediaan pasokan air hingga saat ini masih memadai.
Batang - Maraknya pembangunan perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) bagian dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto turut mendongkrak kebutuhan pasokan air bersih di Kabupaten Batang. Menanggapi lonjakan pemukiman baru tersebut, Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Air Minum Sendang Kamulyan memastikan ketersediaan pasokan air hingga saat ini masih memadai.
Direktur Utama Perumda Air Minum Sendang Kamulyan Batang Mulyono menyampaikan, bahwa pihaknya terus bersiap mengantisipasi pertumbuhan pemukiman warga, termasuk perumahan subsidi yang baru diresmikan oleh Presiden.
“Untuk pelayanan di Batang, terutama di perumahan-perumahan yang banyak, apalagi ada perumahan subsidi yang kemarin diresmikan oleh Bapak Presiden, untuk air kita masih cukup,” katanya saat ditemui di Kantornya, Kamis (6/8/2026).
Mulyono menambahkan, pihak Perumda tidak tinggal diam dan terus mengupayakan peningkatan kapasitas suplai. Efisiensi tata kelola dari hulu hingga hilir menjadi fokus utama manajemen, terutama dalam menjaga kestabilan aspek Kualitas, Kuantitas, dan Kontinuitas (K3).
“Bulan-bulan seperti ini memang kita harus benar-benar meng-efektifkan dari sumber di hulu sampai ke hilir untuk menjaga kestabilan air untuk K3-nya. Sampai bulan ini air alhamdulillah semuanya jalan lancar, tidak ada kendala, dan sumber masih cukup,” jelasnya.
Meski memasuki musim kemarau, penurunan debit pada sumber-sumber mata air Perumda dinilai masih dalam batas normal dan belum berdampak signifikan terhadap distribusi.
Sektor Industri dan Konsumsi Air Puncak
Terkait kawasan industri di sepanjang jalur Pantura Batang, Mulyono menyebutkan bahwa kebutuhan air untuk sektor tersebut memiliki karakter yang bervariasi. Sebagian industri telah terhubung dengan jaringan pipa Perumda, sementara sebagian lainnya mengandalkan Air Bawah Tanah (ABT).
“Kapasitasnya tidak sebesar itu, pemakaiannya hanya setara pemakaian biasa. Karena pabrik itu ada yang hanya butuh untuk MCK karyawan saja, jadi tidak semuanya mengonsumsi air untuk produksi skala besar,” terangnya.
Di sisi lain, Perumda Sendang Kamulyan menyoroti penurunan tekanan air pada jam-jam sibuk masyarakat. Mulyono menjelaskan bahwa penurunan aliran terjadi karena adanya lonjakan penggunaan secara bersamaan pada waktu tertentu. Jam puncak penggunaan air di pemukiman warga biasanya berlangsung pada pagi hari (pukul 05.00–08.00 WIB) dan sore hingga malam hari (pukul 16.00–19.00 WIB).
“Pada jam puncak pasti ada titik-titik yang kalah. Yang tadinya mengalir besar jadi kecil, bahkan yang kecil bisa terhenti. Makanya kami imbau masyarakat untuk membuat bak tandon penampungan, paling tidak cukup untuk menampung kebutuhan di jam-jam puncak tersebut,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)