Batang - Terdesak oleh kebutuhan hidup atau bahkan pola hidup hedonis yang tak diimbangi kemampuan mengelola keuangan, seringkali mengakibatkan munculnya polemik kehidupan sosial. Terinspirasi dari kehidupan sosial di sekitar, menginspirasi Komunitas Teater Jaten mementaskan lakon "Lurung Kalabendu" karya Joko Bibit Santoso, sebagai pengingat bagi masyarakat, agar selalu berpikir panjang sebelum mengambil keputusan, sehingga tak menyesal di kemudian hari.
Batang - Terdesak oleh kebutuhan hidup atau bahkan pola hidup hedonis yang tak diimbangi kemampuan mengelola keuangan, seringkali mengakibatkan munculnya polemik kehidupan sosial. Terinspirasi dari kehidupan sosial di sekitar, menginspirasi Komunitas Teater Jaten mementaskan lakon "Lurung Kalabendu" karya Joko Bibit Santoso, sebagai pengingat bagi masyarakat, agar selalu berpikir panjang sebelum mengambil keputusan, sehingga tak menyesal di kemudian hari.
Sebagai sutradara, Nur "Ayak" Rozak berupaya merefleksikan realita yang saat ini terjadi di kehidupan sosial, mulai dari terjerat pinjaman online, kredit barang elektronik dengan uang muka murah. Namun, justru menjadi jebakan bagi si peminjam hingga berdampak pada perekonomian keluarga.
“Akhirnya justru jadi jaring laba-laba yang menjebak masyarakat kecil itu sendiri. Setidaknya lewat pementasan ini, kami ingin menyampaikan pesan agar berperilakulah sesuai kadar kemampuan, jangan melebihi batas diri,” katanya, saat ditemui di Gedung Serbaguna Desa Kalipucang Kulon, Kabupaten Batang, Sabtu (25/7/2026) malam.
Diakuinya, perlu kerja keras untuk mementaskan lakon tersebut, mengingat sangat majemuknya kesibukan para pemeran. Sehingga memerlukan waktu latihan yang cukup intens agar tak mengganggu rutinitas keseharian, selama berproses hingga tiba pementasan.
“Karena pemainnya itu ada yang berprofesi guru, pelajar dan lainnya, otomatis mengalami sedikit kendala karena harus bagi waktu, antara latihan dan beraktivitas. Tapi alhamdulillah kami berproses selama empat bulan dan akan mementaskannya di Gedung Serbaguna Kalipucang Kulon, Auditorium UMK Kudus dan Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta,” jelasnya.
Salah satu pemain, Sabrina siswi SMA Negeri 1 Batang, merasa bangga menjadi bagian dari pementasan Lurung Kalabendu karena dapat mengasah kemampuan berteater dan melatih kepekaan sosialnya. Bagi remaja yang telah beberapa tahun bergabung di Teater Zigot ini, sengaja mengikuti audisi demi mendalami dunia teater.
“Main teater itu ada keasyikan tersendiri, saya jadi lebih peka. Khusus untuk pementasan kali ini hampir empat bulan latihan, dan harus pintar bagi waktu dengan kegiatan sekolah,” terangnya.
Ia bersama para pemain lainnya, mengharapkan lewat pemerataan kali ini, penonton terpuaskan dan menikmati tiap detail karakter yang ditampilkan.
“Kami ingin penonton melihat hasil berproses selama ini dengan hasil yang memuaskan dan berbinar,” harapnya.
Sebagai generasi z, ia pun berpesan agar tetap mencintai budaya Jawa, sesuai naskah dan karakter yang dimainkan, seluruhnya menggunakan tata bahasa Jawa. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)