Batang - Menyikapi peristiwa yang terjadi di Manokwari Papua Barat, menurut Frater Diakon Andreas Buarlele, dari Paroki Santo Yusup Batang, ada segelintir orang yang masih memiliki pola pikir dan tindakan primordialisme dimana melihat perbedaan suku, agama, ras dan warna kulit yang ditonjolkan. Akan tetapi karena kita hidup di bumi nusantara, dengan segala keanekaragamannya, tentu semua adalah putra-putri ibu pertiwi, sudah sepantasnya meninggalkan politik identitas, dan meleburnya ke dalam kebhinekaan.
Ia berpesan kepada masyarakat Kota Batang khususnya dan rakyat Indonesia umumnya harus pandai menyikapi informasi yang beredar di dunia maya.
“Ada berita yang benar-benar terjadi, tapi terkadang itu berita palsu, atau berita yang kedengarannya itu benar, tetapi karena dibungkus dengan baik, masyarakat melihatnya sebagai berita palsu. Sehingga perlu kita saring semua informasi yang beredar di media sosial, apakah berita benar atau hanya ingin memecahbelah bangsa,†papar Diakon Andre yang berasal dari Kepulauan Tanimbar di Paroki Santo Yusup Kabupaten Batang, Rabu (21/8/2019).
Diakon Andre mengimbau agar mempererat persatuan dan kesatuan, walaupun berbeda agama, suku, bahasa dan kebudayaan, tetapi tetap menjadi satu dalam Bhinneka Tunggal Ika.
Sementara, menurut Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Batang, Akhmad Handi Hakim, justru dengan negara Indonesia yang multi etnis, dapat menjadi potensi kekuatan luar biasa, terapi juga bisa menjadi potensi perpecahan jika tidak dirawat.
“Maka sejak lama nenek moyang kita mengajarkan persatuan dalam perbedaan, melalui semboyan Bhinneka Tunggal Ika sudah didengung-dengungkan, kemudian merawatnya dengan cara saling menghormati,†terangnya.
Jangan hanya karena persoalan perbedaan suku, agama, ras dan antar golongan, kemudian dibesar-besarkan, sebab hal itu akan merugikan Indonesia sebagai negara kesatuan.
“Orang Papua itu ssbetulnya baik hatinya, jika kita mau lebih dekat dan santun dengan mereka, justru mereka akan jauh lebih bersahabat dengan kita, karena sebenarnya kita semua adalah saudara,†ujar Alumni IPDN tahun 1995 yang pernah menjabat sebagai Lurah Samkai Merauke. (MC Batang, Jateng/Heri)