Batang - Ratusan pelajar SMP Negeri 4 Batang mendapatkan pembelajaran seputar peredaran darah dalam mata pelajaran IPA, dengan mengikuti kunjungan kelas ke PMI. Para siswa mendapat kesempatan langsung agar memahami proses pengelolaan darah hingga kepalangmerahan, yang secara sosial bermanfaat bagi keberlangsungan hidup manusia.
Batang - Ratusan pelajar SMP Negeri 4 Batang mendapatkan pembelajaran seputar peredaran darah dalam mata pelajaran IPA, dengan mengikuti kunjungan kelas ke PMI. Para siswa mendapat kesempatan langsung agar memahami proses pengelolaan darah hingga kepalangmerahan, yang secara sosial bermanfaat bagi keberlangsungan hidup manusia.
Kepala SMPN 4 Batang Sri Mulyatno mengantarkan anak didiknya khusus kelas VIII untuk mengetahui serba-serbi darah dan kemanfaatannya lebih mendalam. Beberapa materi utama yang dijabarkan di antaranya seputar donor darah, termasuk bagi siswa kelak ketika memiliki usia yang diperbolehkan untuk mendonorkan darahnya.
“Anak-anak diedukasi seputar prosedur untuk mendonorkan darahnya ketika berusia 17 tahun, serta materi kepalangmerahan. Itu karena untuk memberikan pemahaman setelah mereka ikut menyumbang di bulan dana, sehingga tahu dana yang terhimpun itu disalurkan kepada siapa dan untuk apa saja,” katanya, saat mendampingi anak didik, di Ruang Unit Donor Darah PMI Batang, Kabupaten Batang, Kamis (22/10/2026).
Yang tidak kalah pentingnya, anak juga melakukan cek golongan darah, tujuannya selain untuk mengetahui jenis golongan darahnya, juga supaya mengetahui jenis Rhesusnya.
“Ini langkah PMI untuk menjaring Rhesus negatif juga yang berasal dari luar negeri dan sudah sampai ke Indonesia juga, dan ternyata anak mayoritas Rhesusnya positif,” jelasnya.
Ketua PMI Batang Ahmad Taufik menyambut baik kunjungan kelas dari para siswa SMPN 4 Batang yang didampingi langsung oleh kepala sekolah. Dengan melihat langsung proses donor maupun pengolahannya, anak jadi memahami betapa mendonorkan darah merupakan sebuah amal soleh yang dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Pahalanya sangat besar karena setetes darah kita ini diberikan kepada yang membutuhkan. Selain itu, mereka juga memahami persyaratan apabila ingin mendonorkan darahnya karena diedukasi langsung oleh petugas,” terangnya.
Selama kunjungan kelas, siswa juga dibekali pentingnya pengetahuan kepalangmerahan karena secara sosial dalam kehidupan tentu membutuhkan pertolongan sesama, terlebih apabila terjadi kebencanaan.
“Jadi mereka bisa meminimalisir kerawanan kebencanaan, misalnya kebakaran yang rawan terjadi, di rumah khususnya di dapur,” ungkapnya.
Salah satu siswi, Zera setelah melakukan cek golongan darah, menjadi tahu tentang jenis golongan darahnya. Ia pun berkeinginan suatu saat ketika telah memasuki usia remaja dewasa, berkeinginan untuk menjadi pendonor.
“Jadi tadi sudah keliling ke semua ruangan, termasuk cek golongan darah, jenisnya O positif. Nggak takut sih karena cuma sedikit kok diambilnya, jadi tenang,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)