Batang - Guna menekan angka pengangguran serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal, Polresta Batang menggandeng Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Batang dengan meluncurkan program sinergi bertajuk "Polisi Peduli Pengangguran".
Batang - Guna menekan angka pengangguran serta meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) lokal, Polresta Batang menggandeng Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Batang dengan meluncurkan program sinergi bertajuk "Polisi Peduli Pengangguran".
Dalam arahannya, Kapolresta Batang Kombespol Warsono menekankan pentingnya pemetaan yang detail terkait potensi tenaga kerja, baik dari radius wilayah perusahaan maupun kesiapan individu yang akan dilatih. Langkah ini dinilai krusial untuk mengantisipasi potensi permasalahan di kemudian hari.
“Harapan kami, Disnaker sudah memetakan potensi tenaga kerja. Namun permasalahan terkait SDM orang per orang yang akan dilatih dan masuk ke perusahaan juga harus dipetakan secara detail agar tidak ada permasalahan di kemudian hari,” katanya, saat ditemui di Disnaker Batang, Kabupaten Batang, Kamis (22/10/2026).
Kapolresta juga mengusulkan beberapa langkah konkret, di antaranya, pembentukan grup sosialisasi Disnaker untuk memastikan penyerapan anggaran APBD tepat sasaran dan pelatihan sesuai kompetensi. Penyusunan Nota Kesepahaman dengan Disnaker sebagai upaya menampung serta memberikan sosialisasi program kepada karyawan maupun calon karyawan.
“Peningkatan sosialisasi kepada masyarakat Batang agar terus meningkatkan kualitas SDM demi memenuhi standar industri yang kian berkembang. Prioritas 70% Tenaga Kerja Lokal dan Gandeng 22 Perusahaan,” jelasnya.
Sementara itu, Plt. Kadisnaker Batang Farida Ariyani Kusumaningrum, menyambut baik sinergi lintas instansi ini. Ia menjelaskan bahwa program yang bersumber dari dana APBD tersebut dipastikan akan dikawal agar tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Farida memaparkan bahwa kuota prioritas bagi tenaga kerja lokal Kabupaten Batang dipatok sebesar 70%. Dengan tetap mengedepankan standar dan kualifikasi yang dibutuhkan oleh perusahaan.
“Tantangan kami di lapangan adalah adanya beberapa perusahaan yang mengedepankan gender tertentu dalam penerimaannya. Ini menjadi perhatian kami agar tetap ada pemerataan,” ujar dia.
Ia juga menambahkan bahwa saat ini pihaknya telah menjalin kerja sama dengan 22 perusahaan di Kabupaten Batang. Tercatat ada sekitar 800 orang tenaga kerja siap kerja yang saat ini masih menunggu informasi serta kebutuhan lanjutan dari pihak perusahaan. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)