Batang Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Bapperida Batang, Kabupaten Batang, Jumat (9102026).
Batang – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Batang mengumumkan hasil pemeriksaan laboratorium terkait kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kantor Bapperida Batang, Kabupaten Batang, Jumat (9/10/2026).
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan cemaran mikroba pada sampel makanan yang diambil dari bank sampel Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pada sampel feses sejumlah pasien. Sementara itu, pemeriksaan terhadap sampel muntahan tidak menemukan cemaran mikroba.
Kepala Dinkes Kabupaten Batang Ida Susilaksmi menyampaikan hasil tersebut saat membacakan hasil uji laboratorium di Kantor Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Batang.
“Sampel makanan yang diperiksa berasal dari bank sampel di SPPG, yakni makanan segar yang diambil setelah dimasak dan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat. Sampel makanan yang dikonsumsi langsung oleh masyarakat tidak lagi tersedia saat pemeriksaan dilakukan. Karena itu, pemeriksa juga mengambil sampel feses dan muntahan dari pasien yang menjalani perawatan di puskesmas,” jelasnya.
Dari hasil pemeriksaan, ditemukan cemaran mikroba pada sampel makanan dan feses pasien, sedangkan pada sampel muntahan tidak ditemukan. Sejumlah sampel yang diuji meliputi nasi putih, telur bolognese, ca sayur, tahu goreng tepung, anggur, air bersih untuk memasak, air reverse osmosis (RO), serta air cucian ompreng atau wadah makanan.
“Meski ditemukan cemaran mikroba, Dinkes belum dapat memastikan jenis makanan tertentu yang menjadi penyebab utama kasus tersebut. Hal ini karena tidak tersedianya sampel makanan yang diambil langsung dari makanan yang dikonsumsi para penerima manfaat,” terangnya.
Dengan kondisi tersebut, hasil pemeriksaan belum cukup untuk menyimpulkan apakah cemaran berasal dari salah satu menu tertentu atau dari faktor lain dalam proses pengolahan dan distribusi makanan.
Ida juga menjelaskan, cemaran mikroba dapat berkaitan dengan proses pemasakan yang kurang matang atau penerapan higiene dan sanitasi yang belum optimal.
Selain itu, proses distribusi dan penyimpanan makanan juga perlu menjadi perhatian. Dalam kondisi tertentu, mikroba yang jumlahnya masih sedikit setelah makanan dimasak dapat berkembang biak selama penyimpanan, terutama apabila suhu makanan tidak terjaga dengan baik.
“Penggunaan ompreng yang ditutup selama distribusi dan penyimpanan juga menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan bersama faktor suhu serta lamanya makanan disimpan. Karena itu, pengendalian keamanan pangan perlu dilakukan sejak proses persiapan bahan, pemasakan, pengemasan, hingga makanan diterima dan dikonsumsi penerima manfaat,” terangnya.
Dinkes Batang mengingatkan pentingnya penerapan higiene dan sanitasi secara konsisten dalam penyelenggaraan program MBG. Pemeriksaan bahan pangan, kematangan makanan, kebersihan peralatan, serta pengendalian suhu dan waktu distribusi menjadi bagian penting untuk mencegah kejadian serupa.
“Hasil pemeriksaan laboratorium tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi penanganan kasus keracunan di Kecamatan Bawang. Namun, penetapan penyebab pasti tetap memerlukan kehati-hatian karena sumber makanan yang dikonsumsi langsung oleh para korban tidak tersedia untuk diuji,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)