Batang Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Batang, mengimbau peternak sapi perah untuk mewaspadai penyakit brucellosis yang dapat menyebabkan keguguran pada ternak dan berpotensi menular kepada manusia. Penyakit tersebut menjadi perhatian karena dapat berdampak pada produktivitas ternak, termasuk produksi susu. Brucellosis merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Batang – Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Batang, mengimbau peternak sapi perah untuk mewaspadai penyakit brucellosis yang dapat menyebabkan keguguran pada ternak dan berpotensi menular kepada manusia. Penyakit tersebut menjadi perhatian karena dapat berdampak pada produktivitas ternak, termasuk produksi susu. Brucellosis merupakan penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Dokter Hewan Dispaperta Batang Ambar Puspitaningsih menjelaskan, salah satu ciri utama brucellosis pada sapi adalah terjadinya keguguran, terutama saat usia kebuntingan memasuki trimester akhir. Biasanya penyakit ini ditandai dengan keguguran pada usia kebuntingan tujuh, delapan, atau sembilan bulan.
“Dispaperta Batang secara berkala melakukan pengawasan atau surveillance untuk mendeteksi kemungkinan penyebaran brucellosis pada ternak. Pada 2025, ditemukan dua ekor sapi yang terkonfirmasi positif brucellosis di wilayah Kecamatan Bandar. Kedua sapi tersebut kemudian menjalani pemotongan bersyarat atau stamping out sebagai upaya memutus rantai penularan,” katanya saat ditemui di Kantor Dispaperta Batang, Kabupaten Batang, Jumat (9/10/2026).
Sementara itu, hasil pemeriksaan di wilayah Pacet dan Semampir menunjukkan hasil negatif. Menurut Ambar, pengawasan secara berkala tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan ternak dan mencegah masuknya penyakit dari luar daerah.
“Salah satu upaya pencegahan dilakukan melalui pemeriksaan sampel darah menggunakan metode Rose Bengal Test (RBT). Pemeriksaan terutama menjadi perhatian terhadap sapi yang baru didatangkan dari luar daerah atau luar provinsi,” jelasnya.
Ambar menjelaskan, Jawa Tengah masih mempertahankan status bebas brucellosis. Oleh karena itu, vaksinasi tidak disarankan dalam upaya menjaga status tersebut, sesuai kebijakan pengendalian penyakit yang berlaku. Peternak juga diimbau segera melaporkan kepada petugas kesehatan hewan apabila menemukan sapi mengalami keguguran, terutama pada usia kebuntingan tua.
“Selain berdampak pada kesehatan dan produktivitas ternak, brucellosis juga berisiko terhadap kesehatan manusia. Penularan dapat terjadi melalui konsumsi susu yang tidak dipasteurisasi atau tidak diolah dengan aman dari hewan terinfeksi. Karena itu, peternak dan masyarakat perlu memperhatikan kesehatan ternak serta memastikan susu yang dikonsumsi telah melalui proses pengolahan yang aman,” ujar dia.
Dispaperta Batang berharap, pengawasan rutin dan kewaspadaan peternak dapat membantu mencegah penyebaran penyakit sekaligus menjaga produktivitas sapi perah di Kabupaten Batang. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)