Batang - Viralnya taman tematik Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang. warga lokal melalui Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) LKD Kecamatan Gringsing yang disokong program CSR pengelola kawasan membuka deretan food truck warna-warni jadikan peluang usaha yang bagus.
Batang - Viralnya taman tematik Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang. warga lokal melalui Badan Usaha Milik Desa Bersama (Bumdesma) LKD Kecamatan Gringsing yang disokong program CSR pengelola kawasan membuka deretan food truck warna-warni jadikan peluang usaha yang bagus.
Camat Gringsing Ridho Budhi Kurniawan melihat geliat perputaran uang di sekitar KITB sangat sayang jika dilewatkan begitu saja oleh masyarakat lokal. Kalau kita melihat perputaran ekonomi yang ada di seputaran wilayah KITB ini kan berkembang sangat pesat.
“Jadi menurut kami, food truck dan ini juga atas diskusi kita dengan KITB bahwasanya kawasan yang memiliki daya tarik ini sungguh sangat disayangkan manakala kita tidak menangkap peluang usaha,” katanya saat ditemui di Taman Tematik KEK Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Minggu (13/9/2026).
Alasan pemilihan konsep kedai bergerak ini pun tak lepas dari efisiensinya. Menurut Ridho, food truck menawarkan keleluasaan operasional bagi 15 desa yang tergabung dalam Bumdesma Gringsing.
“Kalau food truck itu kan menurut kami mobilitasnya bisa lebih fleksibel, daripada kita berada di satu stan ataupun satu tempat. Sementara ini kita berfokus di KITB ya, karena ini kan juga bagian dari salah satu unit usaha yang ada di Bumdesma,” jelasnya.
Pengembangan unit usaha ini merupakan buah kolaborasi antara pihak pengelola industri dan para kepala desa di Kecamatan Gringsing.
Sementara itu, Kepala Desa Krengseng Aprilianto menyebutkan armada saji yang disiapkan sejatinya berjumlah empat unit. Posisinya ada empat. Tidak dua tapi empat. Cuman yang dua memang belum nyampe sini, biasanya sore.
“Bahwa proyek ini bermula dari peluang kerja sama CSR yang ditawarkan manajemen kawasan kepada desa-desa sekitar, termasuk Kecamatan Gringsing dan Banyuputih. Food truck ini posisinya memang salah satu bentuk CSR dari Industri Batang (Industropolis Batang) yang kerja sama dengan Bumdesma LKD di wilayah Kecamatan Gringsing, yang dipelopori oleh Pak Camat,” terangnya.
Investasi satu unit food truck ini memakan biaya pemesanan sekitar Rp80 juta hingga Rp90 juta, ditambah aksesori penunjang sekitar Rp20 juta. Namun, nilai tersebut berbanding lurus dengan dampaknya. Food truck ini tak sekadar menjual makanan, tetapi juga menjadi wadah pemasaran olahan UMKM warga.
“Yang jualan untuk sementara posisinya yang di atas. Yang di atas warga. Kemudian juga makanan-makanan yang ada itu juga titipan-titipan dari warga. Jadi bentuk dari warga-warga yang nitip-nitip UMKM yang ada di desa-desa,” ujar dia.
Operasional food truck dirancang menyesuaikan ritme kunjungan warga, yakni mulai pukul 14.30 hingga 19.30 WIB, terutama saat akhir pekan. Respon pengunjung sejauh ini sangat positif.
“Syukur alhamdulillah, karena taman tematik ini baru dibuka, lumayan bahasanya. Cuman nggak tahu ini perkembangannya, ini baru satu minggu,” ungkapnya.
Daya tarik taman tematik yang menyuguhkan pemandangan lepas pantai ini turut diakui pengunjung. Endah (73), warga Kauman Batang, yang datang memboyong rombongan Dasawisma (Dawis) mengaku betah berlama-lama di sana.
“Sudah dua kali ke sini. Memang pemandangan luar biasa, bisa melihat laut. Kalau ke sini lebih enak sore hari, tidak panas,” tuturnya.
Keberadaan food truck pun menjadi penyempurna pengalaman wisata tipis-tipis bagi pengunjung seperti Endah. Apalagi dengan adanya food truck membantu untuk membeli jajan, tidak jauh dan harganya terjangkau. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)