Semarang Sukses dengan program Sak Minggu Sak Buku, Bunda Literasi Kabupaten Batang Faelasufa Faiz berhasil meraih penghargaan Gerakan Budaya Gemar Membaca Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 Kategori Bunda Literasi dalam Festival Literasi Jawa Tengah di Uptown Mall BSB Kota Semarang, Jumat (1192026).
Semarang – Sukses dengan program Sak Minggu Sak Buku, Bunda Literasi Kabupaten Batang Faelasufa Faiz berhasil meraih penghargaan Gerakan Budaya Gemar Membaca Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2026 Kategori Bunda Literasi dalam Festival Literasi Jawa Tengah di Uptown Mall BSB Kota Semarang, Jumat (11/9/2026).
Bunda Literasi Batang Faelasufa mengaku, bersyukur dan berterimakasih kepada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah atas penilaiannya serta kepada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Batang atas supportnya selama ini.
“Tentunya ini adalah sebuah momentum untuk saya menjadi lebih bersemangat dan mengembangkan literasi di Kabupaten Batang. Sak Minggu Sak Buku yang selama ini kita gagas, lanjutnya, merupakan program literasi dari Pemerintah Kabupaten Batang agar menumbuhkan minat baca di kalangan anak-anak minimal satu buku setiap minggunya. Mohon dukungannya, semoga kita bisa terus memajukan literasi di Kabupaten Batang,” jelasnya.
Selain mendapat penghargaan Gerakan Budaya Gemar Membaca Tingkat Provinsi Jawa Tengah Kategori Bunda Literasi, Kabupaten Batang juga mendapatkan penghargaan Juara 2 Pemilihan Duta Baca Tingkat Provinsi Jawa Tengah dan Juara Harapan 2 Perpustakaan Desa Terbaik yang diraih oleh Perpustakaan Griya Prapanca Desa Bandar.
Pegiat Literasi Batang Aqila Lutfika Hilwa Gusnalia berharap, semoga nantinya semakin banyak agen-agen literasi di Kabupaten Batang, sehingga bisa meningkatkan budaya literasi di Kabupaten Batang.
Sementara itu, Bunda Literasi Provinsi Jateng Nawal Arafah Yasin mengatakan, Festival Literasi 2026 merupakan salah satu bentuk komitmen untuk meningkatkan budaya literasi masyarakat, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.
“Setelah kegiatan ini harapannya bisa menguatkan komitmen daripada Bunda Literasi, untuk terus bersemangat meningkatkan budaya literasi di Jawa Tengah. Karena banyak perubahan, bahwa kita harus bertransformasi,” terangnya.
Menurut Nawal, perubahan zaman turut memengaruhi pola masyarakat dalam menikmati buku dan mendapatkan informasi. Generasi Z dan milenial lebih cenderung menyukai ruang yang memungkinkan berinteraksi, berdiskusi, sekaligus menikmati suasana yang lebih santai dan nyaman.
“Kondisi tersebut, perlu direspons dengan melakukan transformasi terhadap ruang-ruang literasi, termasuk perpustakaan. Jangan sampai perubahan pola tersebut justru membuat generasi muda semakin menjauh dari perpustakaan,” tegasnya.
Salah satu upayanya yaitu menghadirkan konsep perpustakaan yang lebih sesuai dengan kebutuhan generasi saat ini. Di Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, misalnya, dikembangkan Aksara D’Caffe sebagai ruang yang memberikan suasana nyaman dan mendukung aktivitas literasi.
“Generasi Z dan milenial saat ini lebih senang tempat yang bisa dia melakukan interaksi-interaksi. Kemudian dia bisa lebih nyaman dengan santai, sehingga jangan sampai perpustakaan itu ditinggalkan,” ujar dia.
Selain melakukan transformasi pada ruang, gerakan literasi juga perlu dihidupkan melalui berbagai aktivitas yang mampu mendorong masyarakat untuk datang, berinteraksi, dan mendapatkan pengalaman literasi.
“Ruang-ruang diskusi, kegiatan literasi, hingga aktivitas pendukung lainnya dapat dikembangkan di perpustakaan. Dengan ini, perpustakaan tidak hanya dipandang sebagai tempat untuk membaca dan meminjam buku, tetapi juga menjadi ruang interaksi dan pengembangan kreativitas masyarakat,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Ardhy/Jumadi)