Batang - Ada pemandangan berbeda dalam karnaval kemerdekaan yang digelar Kelurahan Proyonanggan Selatan, Kabupaten Batang, Minggu (3082026). Di tengah kemeriahan Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Lurah Proyonanggan Selatan Fariz Mukti memilih turun langsung dan berjalan kaki bersama warga mengikuti rombongan karnaval.
Batang - Ada pemandangan berbeda dalam karnaval kemerdekaan yang digelar Kelurahan Proyonanggan Selatan, Kabupaten Batang, Minggu (30/8/2026). Di tengah kemeriahan Peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Lurah Proyonanggan Selatan Fariz Mukti memilih turun langsung dan berjalan kaki bersama warga mengikuti rombongan karnaval.
Fariz tidak hanya menyaksikan peserta dari panggung penghormatan atau mengikuti karnaval menggunakan kendaraan. Ia bersama sekretaris kelurahan, kepala seksi, dan sejumlah staf berjalan kaki menyusuri rute karnaval.
“Keputusan tersebut merupakan bentuk upaya jajaran kelurahan untuk merasakan langsung perjuangan warga yang mengikuti kegiatan. Kami berusaha sebagai pemimpin suatu wilayah, kepala kelurahan, sama-sama ingin merasakan effort dari warga dalam karnaval ini,” jelasnya.
Menurut Fariz, warga harus berjalan kaki dan berada di bawah terik matahari selama mengikuti karnaval. Karena itu, jajaran kelurahan berinisiatif melakukan hal yang sama.
“Mereka panas-panasan, mereka jalan kaki. Sehingga kami dari kelurahan, mulai dari saya lurah, seklur, kasi-kasi, staf semuanya berinisiatif, ayo sama-sama jalan. Tidak hanya berjalan kaki, rombongan Kelurahan Proyonanggan Selatan juga menampilkan sejumlah maskot untuk memeriahkan karnaval,” terangnya.
Di antaranya terdapat maskot berbentuk singa serta kereta kencana yang menjadi bagian dari rombongan. Keterlibatan langsung jajaran kelurahan menjadi cara untuk membangun kedekatan antara pemerintah dan masyarakat.
“Kami dari kelurahan mencoba untuk bisa merasakan apa yang dirasakan oleh warga kita. Karnaval juga menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan antara pemerintah kelurahan dengan Masyarakat,” ungkapnya.
Fariz memaknai kemerdekaan bukan sekadar perayaan tahunan atau kegiatan seremonial. Menurut dia, kemerdekaan harus dirasakan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Makna merdeka itu adalah ketika diri kita bisa mengekspresikan atas apa yang ada di pikiran kita dan ekspresi itu bisa bermanfaat positif untuk masyarakat dan warga negara Indonesia.
“Kemerdekaan yang sesungguhnya harus hadir dalam berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat. Kemerdekaan, nyata ketika warga dapat menjalani kehidupan dengan lebih aman dan Sejahtera,” tegasnya.
Ketika seorang ibu di lorong kampung tidak lagi cemas memikirkan biaya kesehatan anaknya, ketika para pemuda kita punya ruang untuk berkarya tanpa batas, dan ketika gotong royong yang kita saksikan hidup di barisan karnaval ini tetap menjadi otot penggerak kebersamaan kita.
Fariz mengatakan, semangat kemerdekaan juga tercermin ketika warga masih mau duduk bersama untuk menyelesaikan persoalan di lingkungan mereka.
“Selama kita di kelurahan ini masih bisa duduk bersama merembuk masalah, saling menguatkan dalam susah, dan bersorak bersama dalam suka, itulah arti kemerdekaan yang sesungguhnya,” ujar dia.
Pemerintah kelurahan memiliki tanggung jawab untuk menjaga semangat tersebut agar terus hidup di tengah masyarakat. Tugas kami di pemerintahan kelurahan adalah memastikan api kemerdekaan itu tidak pernah padam di setiap rumah warga. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)