Batang - Bukan megahnya panggung hiburan yang menyedot perhatian warga Desa Denasri Kulon, Kecamatan Batang, malam itu. Daya tariknya justru datang dari deretan meja sepanjang 250 meter yang beralaskan daun pisang, membentang rapi melintasi jalan kampung Blok Ngasem, RT 04RW 02. Di atasnya, tersaji hidangan tradisional berbahan dasar singkong: lengko.
Batang - Bukan megahnya panggung hiburan yang menyedot perhatian warga Desa Denasri Kulon, Kecamatan Batang, malam itu. Daya tariknya justru datang dari deretan meja sepanjang 250 meter yang beralaskan daun pisang, membentang rapi melintasi jalan kampung Blok Ngasem, RT 04/RW 02. Di atasnya, tersaji hidangan tradisional berbahan dasar singkong: lengko.
Melalui kemeriahan Festival Lengko dan Bendera Merah Putih 250 Meter dalam rangka memperingati HUT Ke-81 Republik Indonesia, jajanan pasar yang di beberapa daerah dikenal sebagai lemet ini berhasil menghadirkan ruang kebersamaan lintas generasi.
“Lengko itu ibarat keguyuban. Lengko bisa dibuat bersama-sama seperti ini,” kata Ketua RT 04/RW 02 Denasri Kulon Abdul Gofur, saat ditemui di Denasri Kulon, Kabupaten Batang, Sabtu (29/8/2026) malam.
Mewujudkan bentangan lengko sepanjang 250 meter jelas bukan perkara sepele. Dapur warga harus mengolah tak kurang dari 7 kuintal singkong, 70 kilogram gula jawa, 25 kilogram pati, hingga 30 kilogram gula pasir. Kerja besar ini sepenuhnya ditopang oleh keringat, pikiran, dan semangat gotong royong warga setempat.
Perwakilan panitia, Badrudin mengakui bahwa kerumitan pembuatan lengko di luar perkiraan awal mereka. Namun, solidnya kerja sama warga mampu menyelesaikannya hingga tahap pembagian yang tertib.
“Prosesnya luar biasa dan membutuhkan tenaga yang luar biasa, pikiran yang luar biasa. Pembuatan lengko ternyata tidak semudah yang saya bayangkan,” jelasnya.
Badrudin pun menaruh harapan agar kemeriahan ini tak berhenti sebagai perayaan sesaat, melainkan berlanjut menjadi agenda tahunan dengan ragam kuliner tradisional yang berganti.
“Tahun depan entah kita membuat getuk, entah membuat lopis. Yang penting acara ini jangan sampai hanya di tahun 2026,” tuturnya.
Potensi serta dorongan besar juga datang dari pemerintah setempat. Camat Batang Luksono Pramudito, menilai ajang ini sebagai pintu masuk yang strategis untuk melambungkan kuliner lokal ke tingkatan yang lebih tinggi.
“Yang jauh lebih penting adalah mengenalkan potensi kuliner lokal ke daerah yang lebih luas lagi atau ke masyarakat yang lebih luas lagi,” terangnya.
Mengingat Denasri Kulon juga menyimpan potensi sajian lain seperti getuk dan lobis, Luksono mendorong para pelaku UMKM untuk terus memoles produknya agar relevan dengan zaman tanpa menanggalkan identitas aslinya.
“Jadikan momentum ini untuk selalu berkreativitas, berinovasi, perbaiki kemasan,” tegasnya.
Di bawah naungan bendera Merah Putih sepanjang 250 meter yang turut membentang memayungi jalan kampung, perayaan malam itu menyatukan dua makna: bendera sebagai benteng kemerdekaan, dan lengko sebagai perawat warisan cita rasa.
“Bagi warga RT 04/RW 02, angka 250 meter bukan sekadar hitungan panjang meja atau kain. Di balik angka itu, terkandung ratusan kilogram bahan pangan, kerja keras bersama, dan pengingat sederhana bahwa kemerdekaan bisa dirayakan dengan menjaga kebersamaan dari sudut kampung sendiri,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)