Batang - Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Batang dalam mengoptimalkan data untuk pengambilan kebijakan kembali membuahkan hasil manis. Bupati Batang M Faiz Kurniawan berhasil membawa daerahnya masuk ke dalam jajaran pendaulat penghargaan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Jawa Tengah usai Pemkab Batang dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan Top 10 IDSD tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Batang - Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Batang dalam mengoptimalkan data untuk pengambilan kebijakan kembali membuahkan hasil manis. Bupati Batang M Faiz Kurniawan berhasil membawa daerahnya masuk ke dalam jajaran pendaulat penghargaan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) Jawa Tengah usai Pemkab Batang dinobatkan sebagai salah satu penerima penghargaan Top 10 IDSD tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan, penghargaan ini bukanlah sekadar simbol tingginya angka statistik semata, melainkan wujud apresiasi atas komitmen Pemkab Batang dalam memanfaatkan data IDSD untuk melahirkan program-program strategis yang berdampak langsung bagi masyarakat.
“Secara teknis, Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) merupakan instrumen tahunan yang diukur oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk menilai kematangan, kinerja inovasi, serta posisi tawar suatu daerah baik di tingkat regional maupun nasional,” katanya saat ditemui di Kantor Bupati Batang, Kabupaten Batang, Kamis (20/8/2026).
Pengukuran IDSD bertumpu pada empat komponen utama, yaitu Lingkungan Pendukung, Sumber Daya Manusia (SDM), Pasar, serta Ekosistem Inovasi. Keempat aspek ini difungsikan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta menciptakan lingkungan yang kondusif bagi produktivitas dan investasi.
“Skor IDSD Kabupaten Batang sendiri mencatatkan tren positif dengan kenaikan dari 3,59 pada tahun 2024 menjadi 3,61 pada tahun 2025. Lonjakan paling signifikan terlihat pada komponen SDM yang melesat dari 3,74 menjadi 3,86, serta komponen Pasar yang meningkat dari 3,21 ke 3,34,” jelasnya.
Namun, daya tarik utama yang mengantarkan Batang masuk dalam jajaran 10 besar daerah terbaik Jawa Tengah bukanlah sekadar mengejar skor tinggi, melainkan kepiawaian dalam merespons data tersebut menjadi intervensi kebijakan yang tepat sasaran. Penghargaan atau apresiasi ini merupakan bentuk pengakuan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap daerah yang mampu mengolah dan menerapkan data IDSD ke dalam kebijakan nyata.
“Jadi bukan karena nilai IDSD-nya itu yang paling tinggi, itu bukan. Tapi dari IDSD yang ada, datanya dimanfaatkan untuk pengambilan kebijakan. Bagaimana data IDSD dipetakan untuk membaca kelemahan dan kekuatan daerah, yang kemudian ditindaklanjuti dalam dokumen perencanaan seperti RPJMD dan RKPD hingga eksekusi di lapangan,” terangnya.
Semisal contoh, di komponen Sumber Daya Manusia di situ ada keterampilan setelah ada data dari IDSD, termasuk di dalamnya ada TPT (Tingkat Pengangguran Terbuka), itu bagaimana Batang bisa memanfaatkan data untuk pengambilan kebijakan berupa apa? Contohnya pengambilan kebijakan Daker (Dapat Kerja). Jadi memberikan pelatihan, kemudian menyalurkan calon-calon tenaga kerja tersebut.
Faiz juga menyebutkan, pendekatan serupa juga diterapkan pada indikator Rata-rata Lama Sekolah. Ketika data menunjukkan aspek yang perlu didorong, Pemkab Batang langsung mengintervensi lewat pemberian akses sarana prasarana pendidikan, program beasiswa, hingga penyelenggaraan kejar paket.
“Melalui keberhasilan menyeimbangkan analisis data dan kerekatan program nyata, Pemkab Batang membuktikan bahwa data tidak berhenti di atas kertas, melainkan menjadi pijakan utama dalam melahirkan inovasi dan meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)