Batang – Mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Semarang meluncurkan mading edukasi “Alirkan Bersih”. Mading yang memuat infografis dinamika saluran terbuka dan panduan penanganan abu sisa pembakaran stove rocket ini dipasang usai sosialisasi pengelolaan sampah bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang.
Program ini merespons penyumbatan saluran di sejumlah RT akibat sampah dan bebatuan yang membuat air menggenang hingga memicu wabah chikungunya. Persoalan diperparah oleh kebiasaan warga membuang abu stove rocket ke saluran, yang berisiko mencemari sungai dan ekosistem air termasuk pencemaran mikroplastik.
Mahasiswa Program Studi Oseanografi, FPIK Undip Semarang Ricky Purnomo Bayu Aji melakukan survei dan pemetaan titik-titik penyumbatan di saluran terbuka desa. Hasil survei tersebut diterjemahkan menjadi infografis edukasi berbasis keilmuan hidrodinamika aliran agar mudah dipahami warga.
“Rangkaian kegiatan diawali sosialisasi “Optimalisasi Pengelolaan Sampah Melalui Edukasi dan Penguatan Kesadaran Lingkungan Sehat di Desa Jrakahpayung”, menghadirkan praktisi DLH Kabupaten Batang, Ludfi Fuad. Warga tampak antusias mengikuti pemaparan materi hingga sesi tanya jawab,” katanya saat ditemui di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Selasa (18/8/2026).
Mading “Alirkan Bersih” memuat empat poin edukasi: saluran setinggi 10 cm rentan tersumbat, genangan menjadi sarang nyamuk DBD dalam tujuh hari, larangan membuang abu ke saluran, serta imbauan menjauhkan pembakaran stove rocket dari tepi selokan. Mading dipasang di titik strategis desa usai acara sosialisasi selesai.
Ricky Purnomo juga menyebutkan, mading ini dirancang sebagai media edukasi visual yang mudah dipahami warga. Kami ingin warga punya panduan sederhana menjaga saluran tetap lancar sekaligus melindungi ekosistem air di sekitar desa.
Kepala Desa Jrakahpayung Amat Rozokin mengapresiasi inisiatif mahasiswa KKN tersebut. Mading edukasi ini sangat membantu warga memahami pentingnya menjaga kebersihan saluran, semoga kesadaran ini terus terjaga.
“Program ini sangat linier dengan SDG 14 (Ekosistem Lautan) karena mencegah pencemaran mikroplastik ke sungai, serta SDG 6 (Air Bersih dan Sanitasi Layak). Program ini juga sejalan dengan SDG 3 (Kehidupan Sehat dan Sejahtera) dan SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab),” ujar dia.
Kegiatan ditutup dengan sesi foto bersama dan diskusi ringan antara mahasiswa, praktisi DLH, perangkat desa, dan warga. Program ini dibawah pengawasan Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Dul Muid yang berharap mading menjadi pengingat berkelanjutan bagi warga Desa Jrakahpayung. (MC Batang, Jateng/ Ricky Purnomo/Jumadi)