Batang - Sapuan kuas dan tinta hitam menjadi pengalaman baru bagi anak-anak Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang diketuai oleh Ricky Purnomo Bayu Aji menyelenggarakan kegiatan bimbingan belajar interaktif dengan mengenalkan kaligrafi Jepang atau Shod sebagai salah satu budaya tradisional Jepang kepada anak-anak setempat.
Batang - Sapuan kuas dan tinta hitam menjadi pengalaman baru bagi anak-anak Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tim II Universitas Diponegoro (Undip) Semarang yang diketuai oleh Ricky Purnomo Bayu Aji menyelenggarakan kegiatan bimbingan belajar interaktif dengan mengenalkan kaligrafi Jepang atau Shod? sebagai salah satu budaya tradisional Jepang kepada anak-anak setempat.
Program ini digagas oleh Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Undip Semarang Noor Annisa Hanan Darojah, sebagai upaya menghadirkan bimbingan belajar yang tidak hanya berfokus pada materi akademik, tetapi juga memperkenalkan wawasan budaya internasional sejak dini kepada anak-anak desa. Penyampaian materi dikemas secara interaktif agar anak-anak lebih mudah memahami dan antusias mengikuti kegiatan.
“Anak-anak di sini belum banyak yang mengenal budaya Jepang, jadi kami ingin memperkenalkannya lewat sesuatu yang bisa langsung mereka praktikkan, yaitu Shod?. Selain belajar menulis, mereka juga jadi tahu bahwa kaligrafi Jepang itu soal ketelitian dan konsentrasi, bukan sekadar menulis huruf,” katanya saat itemui di Desa Jrakahpayung, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan diawali dengan penyampaian materi menggunakan media presentasi (PowerPoint) mengenai teknik dasar Shod?, mulai dari pengenalan alat tulis kaligrafi hingga cara memegang dan menggerakkan kuas dengan benar. Setelah memahami teknik dasarnya, anak-anak kemudian diajak langsung mempraktikkan penulisan karakter Jepang sederhana menggunakan kuas. Pembelajaran dikemas secara interaktif untuk melatih kreativitas, ketelitian, dan konsentrasi anak-anak selama proses menulis.
“Antusiasme terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Anak-anak yang semula belum pernah memegang kuas kaligrafi tampak bersemangat mencoba menorehkan garis demi garis membentuk karakter Jepang sederhana, sembari sesekali bertanya kepada mahasiswa pendamping mengenai cara menulis yang benar,” terangnya.
Salah satu perwakilan warga Desa Jrakahpayung Udin Setiawan menyampaikan, apresiasinya terhadap kegiatan ini.
“Kegiatan seperti ini bagus untuk anak-anak, selain belajar hal baru, mereka juga jadi berani mencoba dan lebih fokus. Semoga kegiatan semacam ini bisa terus ada,” tuturnya.
Kepala Desa Jrakahpayung Amat Rozikin menambahkan kami senang anak-anak diperkenalkan dengan budaya asing seperti ini sejak dini.
“Semoga wawasan yang mereka dapatkan bisa menjadi bekal untuk lebih percaya diri dan terbuka ke depannya,” ujar dia.
Kegiatan pengenalan Shod? ini sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-4, yaitu Pendidikan Berkualitas. Edukasi budaya internasional yang dikemas melalui kegiatan bimbingan belajar interaktif menjadi salah satu upaya memperluas wawasan dan kesempatan belajar bagi anak-anak Desa Jrakahpayung.
“Melalui pengenalan kaligrafi Jepang ini, mahasiswa KKN Tim II Undip berharap anak-anak Desa Jrakahpayung dapat semakin terbuka terhadap budaya asing sekaligus terus mengasah kreativitas dan konsentrasi mereka melalui kegiatan belajar yang menyenangkan,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Noor Annisa/Jumadi)