Batang - Retakan tanah saat musim kemarau dikhawatirkan warga Dukuh Silegok, Desa Sodong, berdampak kebencanaan ketika hujan mulai turun. Pengalaman itulah yang menjadi titik awal diskusi antara warga dan mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro, pada Senin 3 Agustus 2026.
Batang - Retakan tanah saat musim kemarau dikhawatirkan warga Dukuh Silegok, Desa Sodong, berdampak kebencanaan ketika hujan mulai turun. Pengalaman itulah yang menjadi titik awal diskusi antara warga dan mahasiswa KKN Reguler Tim II Universitas Diponegoro, pada Senin 3 Agustus 2026.
Pertemuan itu bukan sekadar sosialisasi. Warga berbagi pengalaman hidup berdampingan dengan ancaman longsor, sementara mahasiswa membawa pendekatan baru melalui pemetaan kawasan rawan longsor yang akan menjadi dasar pelaksanaan reboisasi dalam beberapa hari ke depan. Bagi Dukuh Silegok, ikhtiar menghadapi longsor bukan cerita yang baru dimulai.
Kepala Dusun Silegok Muhalal mengatakan, kegiatan mitigasi telah berjalan sejak 2018 bersama masyarakat dan sejumlah pemangku kepentingan. Edukasi kebencanaan serta penanaman pohon dilakukan secara bertahap agar lereng tetap terjaga sekaligus memperkuat kawasan resapan air.
“Mitigasi ini bukan kegiatan yang baru kami lakukan. Sejak 2018 masyarakat bersama berbagai pihak terus berupaya menjaga kawasan perbukitan melalui edukasi dan penanaman pohon. Tahun ini kami mendapat tambahan ilmu melalui pemetaan kawasan rawan longsor dari adik-adik KKN UNDIP,” katanya saat ditemui di Desa Sodong, Kabupaten Batang, Rabu (5/8/2026).
Tanaman aren, makadamia, dan pucung kini mulai tumbuh di sejumlah lereng. Bagi warga, pohon-pohon itu bukan hanya penghijauan. Akarnya diharapkan membantu menjaga kestabilan tanah, sementara kawasan resapan yang terbentuk menjadi penyangga ketersediaan air ketika kemarau datang. Tahun ini, KKN Reguler Tim II UNDIP menambahkan pendekatan berbasis data.
Mahasiswa Teknik Geologi Universitas Diponegoro Fadhli Haula, menyusun peta kelerengan dan kawasan rawan longsor berdasarkan kondisi topografi wilayah. Peta tersebut akan menjadi acuan dalam menentukan lokasi yang diprioritaskan untuk reboisasi dan kegiatan mitigasi lainnya.
“Peta ini kami susun agar kegiatan mitigasi tidak hanya berdasarkan pengamatan di lapangan, tetapi juga didukung data mulai dari data curah hujan, tutupan lahan dan jenis tanah. Dengan begitu, lokasi yang diprioritaskan benar-benar sesuai dengan tingkat kerawanannya,” jelasnya.
Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Ni Putu Elsa Sukraseni, mengajak warga melihat mitigasi dari sisi yang berbeda. Menurutnya, upaya menjaga kawasan rawan longsor memerlukan dukungan aturan di tingkat desa agar kesepakatan yang dibangun bersama tidak berhenti ketika program KKN selesai.
“Perdes dapat menjadi pijakan bersama dalam menjaga kawasan rawan longsor. Ketika aturan disepakati, masyarakat memiliki pedoman yang sama dan pemerintah desa mempunyai dasar dalam mengawal pelaksanaannya kelestarian lingkungan sehingga Penegakan Lingkungan dapat dijalankan sesuai aturan yang telah disepakati,” ujar dia.
Di penghujung diskusi, percakapan kembali mengarah pada hal yang paling sederhana: kepedulian terhadap lingkungan. Warga sepakat, mitigasi tidak hanya soal menanam pohon atau menyusun peta, tetapi juga menjaga kebiasaan agar lereng tetap lestari. Bagi mereka, itulah cara paling masuk akal untuk merawat ruang hidup yang selama bertahun-tahun menjadi rumah sekaligus sumber penghidupan. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)