Batang - Pemerintah Kabupaten Batang melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) resmi memulai penyusunan Masterplan Integrated Area Development (IAD) Perhutanan Sosial Kabupaten Batang melalui kegiatan Kick Off yang diselenggarakan di Ruang Rapat Pagilaran Bapperida Batang, Kabupaten Batang, Selasa (2172026).
Batang - Pemerintah Kabupaten Batang melalui Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) resmi memulai penyusunan Masterplan Integrated Area Development (IAD) Perhutanan Sosial Kabupaten Batang melalui kegiatan Kick Off yang diselenggarakan di Ruang Rapat Pagilaran Bapperida Batang, Kabupaten Batang, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan ini menjadi langkah awal penyusunan dokumen strategis yang akan menjadi acuan pengembangan kawasan perhutanan sosial secara terpadu, berkelanjutan, dan berbasis potensi lokal. Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil, akademisi, Kelompok Tani Hutan (KTH), Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), pemerintah desa, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk menyamakan visi pembangunan kawasan.
Dalam paparannya, narasumber Direktur SUPD I Ir. Edison Siagian menjelaskan, bahwa pendekatan Integrated Area Development (IAD) merupakan strategi pembangunan yang mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan dalam satu kawasan. Pendekatan ini diharapkan mampu mengoptimalkan potensi wilayah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
“Masterplan ini harus menjadi dokumen hidup yang lahir dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, proses penyusunannya harus melibatkan seluruh pemangku kepentingan agar setiap program yang dirancang benar-benar menjawab potensi sekaligus tantangan di tingkat tapak,” ungkapnya.
Direktur PUPUK Surabaya Herri P menegaskan, bahwa penyusunan Masterplan IAD merupakan bagian dari komitmen bersama dalam membangun tata kelola perhutanan sosial yang lebih terarah dan berkelanjutan.
“PUPUK meyakini bahwa pembangunan kawasan tidak dapat dilakukan secara parsial. Melalui pendekatan Integrated Area Development, seluruh potensi desa, kelompok perhutanan sosial, pemerintah, perguruan tinggi, hingga sektor swasta dipertemukan dalam satu arah pembangunan yang sama. Masterplan ini diharapkan menjadi peta jalan yang mampu memperkuat kelembagaan masyarakat sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan,” jelasnya.
Menurutnya, Kabupaten Batang memiliki potensi besar dalam pengembangan agroforestri, hasil hutan bukan kayu (HHBK), serta berbagai usaha berbasis masyarakat yang perlu diperkuat melalui perencanaan kawasan yang terintegrasi.
Antusiasme peserta terlihat dari aktifnya diskusi mengenai potensi komoditas unggulan, penguatan kelembagaan KTH dan KUPS, pengembangan usaha masyarakat, akses pasar, hingga pentingnya sinergi antarprogram lintas sektor.
Perwakilan KUPS Ganesa Mulia 3 Aida menyampaikan, apresiasi atas pelibatan kelompok masyarakat dalam proses penyusunan masterplan.
“Kami merasa senang karena kelompok perempuan diberi ruang untuk menyampaikan kebutuhan dan potensi yang kami miliki. Harapan kami, masterplan ini tidak hanya menjadi dokumen, tetapi benar-benar diwujudkan melalui program-program yang mendukung pengembangan usaha KUPS, peningkatan kapasitas anggota, serta membuka akses pasar bagi produk-produk kami,” ujar dia.
Melalui kegiatan Kick Off ini, seluruh peserta berkomitmen mendukung penyusunan Masterplan IAD Perhutanan Sosial Kabupaten Batang sebagai pedoman pembangunan kawasan yang mampu mengintegrasikan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Dokumen ini diharapkan menjadi landasan bagi pengembangan perhutanan sosial yang lebih inklusif, memperkuat kelembagaan masyarakat, meningkatkan nilai tambah komoditas lokal, serta memperluas kolaborasi multipihak dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat sekitar hutan.
“Penyusunan Masterplan IAD Perhutanan Sosial Kabupaten Batang merupakan bagian dari upaya mendorong pembangunan kawasan berbasis masyarakat yang adaptif, partisipatif, dan berkelanjutan, sehingga manfaat perhutanan sosial dapat dirasakan secara lebih luas oleh masyarakat sekaligus menjaga kelestarian sumber daya hutan,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)