Batang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batang menggandeng organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) menggelar pelatihan pemanfaatan radio komunikasi atau Handy Talky (HT), bagi unsur perangkat desa. Pelatihan tersebut sebagai optimalisasi pemanfaatan perangkat komunikasi untuk menunjang kemudahan akses informasi terutama di wilayah yang tak tersentuh sinyal atau jaringan.
Batang - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batang menggandeng organisasi Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) menggelar pelatihan pemanfaatan radio komunikasi atau Handy Talky (HT), bagi unsur perangkat desa. Pelatihan tersebut sebagai optimalisasi pemanfaatan perangkat komunikasi untuk menunjang kemudahan akses informasi terutama di wilayah yang tak tersentuh sinyal atau jaringan.
Kepala Pelaksana BPBD Batang Wawan Nurdiansyah memandang penting pelatihan tersebut, terutama saat terjadi peristiwa kebencanaan di wilayah rawan yang sering kali sulit dijangkau sinyal jaringan telekomunikasi. BPBD memerlukan komunikasi yang intensif dengan perangkat desa, karena pihak yang paling memahami kondisi wilayah dan cepat menyampaikan kepada tim penanganan saat terjadi kebencanaan.
“Wilayah yang rawan sulit dijangkau sinyal, ada di Kecamatan Bawang, Reban. Dan melihat situasi saat ini memasuki puncak kemarau perangkat desa bisa menginformasikan apakah di wilayahnya terdampak kekeringan, sehingga instansi terkait segera menangani,” katanya, saat ditemui di Dispermades Batang, Kabupaten Batang, Selasa (21/7/2026).
Pengurus RAPI Batang Pandu Wicaksono menerangkan, beberapa langkah pemanfaatan radio komunikasi atau lebih dikenal dengan nama Handy Talky (HT), untuk memudahkan perangkat desa menginformasikan kondisi terkini apabila di wilayahnya terdampak suatu bencana.
“Biasanya etika terjadi bencana, sinyal telekomunikasi terputus, maka hanya lewat HT inilah perangkat komunikasi yang bisa jadi solusi. Pemanfaatan HT sangat tepat untuk membatu berkomunikasi apabila terjadi suatu peristiwa, terlebih di wilayah dengan kontur tanah yang tidak rata. Sering kali sinyal telekomunikasi sulit menembus, maka HT-lah yang mampu menjadi pendukung komunikasi dengan tim SAR,” jelasnya.
Sering kali terjadi orang hilang, jadi HT yang kami manfaatkan untuk berkomunikasi saat melacak keberadaan orang hilang, atau peristiwa kebencanaan lainnya. Pelatihan ini mengedepankan praktik langsung agar perangkat desa memahami penggunaan HT.
“Frekuensinya sudah diatur sesuai RAPI dan Pemkab, setelah pelatihan akan intens berkomunikasi tiap pukul 21.00 WIB, sehingga mereka terbiasa saat dibutuhkan,” terangnya.
Dipastikan seluruh perangkat di 238 desa telah memiliki HT untuk digunakan setiap saat terjadi kebencanaan. Ada 3.000 HT hanya saja, belum dioptimalkan, makanya kami coba latih mereka dengan praktik langsung, supaya bisa mengoperasikan saat dibutuhkan.
“Hingga saat ini hanya Desa Tegalsari dan Surodadi yang intens berkomunikasi tiap melakukan panggilan. Hal itulah yang jadi hambatan kami, sehingga pelatihan ini penting dilakukan,” tandasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)