Batang Suasana siang di Kabupaten Batang belakangan ini mulai terasa menggigit. Terik matahari yang menyengat seolah menjadi alarm alami bahwa musim kemarau telah benar-benar tiba. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena alam yang dihadapi tahun ini bukan sekadar kemarau biasa, melainkan ada istilah khusus yang membayangi Godzilla.
Batang – Suasana siang di Kabupaten Batang belakangan ini mulai terasa menggigit. Terik matahari yang menyengat seolah menjadi alarm alami bahwa musim kemarau telah benar-benar tiba. Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), fenomena alam yang dihadapi tahun ini bukan sekadar kemarau biasa, melainkan ada istilah khusus yang membayangi Godzilla.
Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Batang Wawan Nurdiansyah, mengungkapkan bahwa dalam paparan BMKG bersama BPBD se-Jawa Tengah beberapa waktu lalu, istilah Godzilla digunakan untuk mengilustrasikan kondisi cuaca yang lumayan ekstrem.
“BMKG menyampaikan yang namanya Godzilla. Artinya bahwa itu ilustrasinya bahwa tahun ini lumayan panas untuk kemaraunya. Meskipun BMKG menetapkan awal kemarau di Batang dimulai sejak Juni, Wawan menyebutkan masyarakat baru benar-benar merasakan dampaknya secara riil pada bulan ini,” katanya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2026).
Secara riil kita rasakan mungkin baru Juli ini yang sama sekali kita secara wilayah sudah tidak ada hujan ya. Kalau Juni kemarin masih ada. Namun, masyarakat diminta tidak lengah. Gerah yang dirasakan saat ini barulah permulaan. Wawan mengingatkan bahwa puncak dari musim kemarau tahun ini baru akan terjadi pada bulan depan.
“Puncak puncaknya kemarau di bulan Agustus. Sehingga ini bulan Juni sekarang ini sudah terasa panas, tapi nanti Agustus adalah puncaknya kemarau. Ada peringatan yang lebih mencemaskan dari BMKG terkait siklus cuaca ke depan. Fenomena Godzilla tahun ini diprediksi justru menjadi jembatan menuju kemarau yang jauh lebih parah pada tahun depan, tepatnya di tahun 2027,” terangnya.
Hal ini terjadi karena pasokan air hujan di awal tahun depan diproyeksikan menurun drastis dibandingkan awal tahun 2026, sehingga cadangan air tanah otomatis menipis saat memasuki masa kering.
“Godzilla-nya tahun ini itu akan nanti lebih parah lagi di tahun 2027. Nah, jadi tahun ini panas, Godzilla, tapi tahun depan akan lebih kekeringan lagi. Kenapa? Karena prediksi hujannya di awal tahun 2027 ini tidak setinggi yang awal tahun kemarin 2026. Sehingga nanti stok air di musim kemarau 2027 ini lebih sedikit dibanding tahun ini,” imbuhnya.
Meski bayang-bayang kekeringan mengancam, Wawan membawa kabar baik untuk kondisi wilayah Batang hingga dasarian pertama bulan Juli ini. Dari total 15 kecamatan yang ada, BPBD belum menerima satu pun laporan mengenai kelangkaan air bersih. Kondisi ini mengulang kesuksesan tahun 2025 lalu, di mana Kabupaten Batang sama sekali bebas dari status darurat air bersih.
“Di 15 Kecamatan ini masih relatif aman karena kita melihat ya wilayah kita terutama di dataran tinggi di selatan kan hutannya masih lumayan terjaga. Artinya tidak ada kegiatan ekstrem sampai penggundulan hutan, sehingga itu masih mungkin bisa menahan resapan air,” tegasnya.
Kendati demikian, Wawan memberikan catatan tegas kepada para petani di kawasan dataran tinggi agar tidak meluaskan lahan pertanian dengan mengorbankan area hutan, seperti yang terjadi pada komoditas tertentu.
“Dengan menambah area pertanian, misalnya kentang, itu kan berarti mengurangi area hutan. Nah, itu yang kita imbau seperti komitmen warga menjaga alam. Belajar dari pengalaman tahun 2024 di mana BPBD harus turun tangan melakukan dropping air bersih ke sejumlah kecamatan seperti Limpung, Batang, Wonotunggal, Bandar, Kandeman, Warungasem, Subah, dan Pecalunga pihaknya memastikan seluruh armada kini dalam posisi siap siaga,” ungkapnya.
Jika sewaktu-waktu ada desa yang mulai kering, BPBD telah menjalin kerja sama penuh dengan PDAM untuk menyuplai air bersih ke masyarakat tanpa dipungut biaya sepeser pun.
“Kita hampir setiap tahun, artinya kan kita selalu pada saat musim kemarau ini kita selalu standby. Dan tidak hanya BPBD, kami dibantu terutama dari PDAM. Kita secara transportasi, secara armada kita dan PMI punya tangki air. Dan untuk stok air juga dari PDAM siap membantu 100%, artinya tanpa biaya,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)