Batang - Pada 13 Juli, para siswa baru sudah mulai masuk sekolah untuk memulai lembaran baru di tahun ajaran yang baru. Menyambut kedatangan mereka, Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) memastikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) akan berjalan dengan aman, nyaman, dan sepenuhnya bebas dari praktik perpeloncoan.
Batang - Pada 13 Juli, para siswa baru sudah mulai masuk sekolah untuk memulai lembaran baru di tahun ajaran yang baru. Menyambut kedatangan mereka, Pemerintah Kabupaten Batang melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) memastikan bahwa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) akan berjalan dengan aman, nyaman, dan sepenuhnya bebas dari praktik perpeloncoan.
Kepala Disdikbud Batang Bambang Suryantoro Sudibyo menegaskan, bahwa tradisi lama yang sarat dengan tekanan fisik maupun mental sudah tidak memiliki tempat lagi di lingkungan pendidikan saat ini.
“Sudah beberapa tahun ini MPLS itu sudah berjalan eh tidak ada semacam senior junior. Terus dulu istilahe kalau di ospek itu kan ada ada kekerasan, bukan kekerasan fisik ya, yang yang terkait dengan fisik yang memberatkan. Insyaallah tahun ini yang penting ramah bagi siswa baru,” katanya saat ditemui di Kantornya, Kamis (9/7/2026).
Bambang meluruskan bahwa esensi utama dari MPLS adalah masa adaptasi, bukan ajang unjuk gigi para senior. Sekolah diwajibkan mengemas kegiatan awal ini secara edukatif agar siswa baru merasa diterima di lingkungan barunya.
“Namanya aja Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, berarti hanya dikenalkan di sekolah iki seperti ini loh. Nah, mereka kan baru masuk di situ. Sudah kita tekankan pada sekolah tidak boleh ada apa ya istilahe anu fisik di MPLS ini. Kebijakan MPLS yang humanis ini diakuinya bukan sekadar gebrakan musiman, melainkan regulasi yang terus dikawal ketat dari tahun ke tahun. Tidak hanya tahun ini, sudah beberapa tahun yang lalu,” jelasnya.
Lebih dari sekadar melarang kekerasan, Disdikbud Batang juga menginstruksikan pihak sekolah untuk bergerak aktif sejak hari pertama. Guru dan kepala sekolah diminta peka dan mencermati kondisi fisik serta riwayat kesehatan para siswa baru agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan selama kegiatan berlangsung.
Sembari berbagi pengalaman pribadinya yang tidak kuat jika diminta berlari, Bambang meminta agar sekolah tidak segan untuk berkomunikasi dua arah dengan murid.
“Saya pernah sampaikan pada saat rapat bahwa karena saya mengalami sendiri. Saya itu kan kalau suruh lari kan enggak kuat. Jadi ditanya eh oleh kepala sekolah atau guru untuk menanyakan 'Kekuranganmu opo sih?' Walaupun tidak ada lari ya, barangkali pas upacara terus semaputan (pingsan). Jadi sudah Mas, itu artinya sudah dicermati oleh masing-masing sekolah,” ungkapnya.
Langkah preventif ini dinilai sangat krusial. Sebab, meski MPLS kini didesain tanpa kontak fisik yang berat, beberapa aktivitas sederhana di lapangan tetap membutuhkan pemantauan khusus.
“Memilah-milah siswa sing dikira-kira. Walaupun tidak ada kekerasan, tidak ada eh MPLS terkait fisik loh ya, hanya kan kadang latihan upacara, baris-berbaris, itu kan sok-sok ono (kadang-kadang ada) walaupun sekedar sederhana. Gitu,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)