Batang - Sosok superhero Kapten Amerika dan Batman menjadi pemandangan yang berbeda di Rumah Sakit Daerah (RSUD) Kalisari Batang.
Batang - Sosok superhero Kapten Amerika dan
Batman menjadi pemandangan yang berbeda di Rumah Sakit Daerah (RSUD) Kalisari
Batang.
Sosok tokoh karakter pahlawan di film-film yang di
perankan oleh pemain badut itu, hanya untuk menghibur anak dengan penyakit
kronis Thalasemia dalam rangka merayakan Word
Thalesemia Day, Kamis 27 Mei 2021.
“Sosok superhero kita hadirkan untuk menghibur
penyintas Thalasemia, untuk memberikan semangat saja, sekaligus sosialisasi
penyakit kronis Thalasemia,†kata dokter spesialis anak Tan Evi Susanti SpA saat
ditemui di RSUD Kalisari Batang, Kabupaten Batang, Kamis (27/5/2021).
Ia pun mengatakan penyakit Thalasemia belum banyak
orang tua penderita mengetahui tentang bagaimana merawat agar bisa tetap sehat.
“Kegiatan ini kita memberikan edukasi kepada orang
tua penderita Thalasemia agar bisa hidup sehat,†jelasnya.
Thalasemi merupakan pnyakit kronis, Lanjut dia,
disebabkan oleh kelainan darah yang diturunkan oleh orang tua atau genetika.
Kondisi ini menyebabkan tubuh kadar Hemoglobin (HB) lebih rendah dari orang
normal pada umumnya.
“Penderita Thalasemia mayor harus dibantu dengan
transfusi darah setiap 2 hingga 4 minggu sekali seumur hidup,†katanya.
Ia pun mengatakan, penyakit tersebut di
haruskan HB 9 atau 10 harus transfusi darah dan harus meminum obat kelasi
besi.
“Kalau hal itu tidak dilakukan akan memicu
komplikasi hingga menyebabkan kematian,†ungkapnya.
Thalasemia belum diketahui dan juga belum banyak
yang tahu cara mencegah dan memutus mata rantai.
“Pencegahannya dengan skrining darah diusia subur.
Kalau sudah tahu menderita Thalasemia agar cari pasangan hidup jangan yang sama
memiliki potensi atau pembawa thalasemia,†tuturnya.
Evi juga menjelaskan kasus penderita Thalasemia di
Kabupaten Batang selalu bertambah, namun kenaikannya tidak drastis.
“Data di Kabupaten Batang penderita anak dengan Thalasemia
ada sekitar 25, tapi kalau dengan orang dewasa bisa mencapai 30 orang. Di
Indonesia tercatat mencapai 10.555 orang,†tandasnya.
Sementara, Sri Murti orang tua penderita Thalasemia
asal Bandar dengan dua anak penyintas tersebut menyatakan tidak kesulitan
merawatnya.
“Keseharian merawatnya seperti anak normal biasa,
hanya saja lebih memperhatikan dalam minum obat kelasi besi untuk mengurangi
penumpukan zat besi, akibat transfuse,†katanya.
Ia mengatakan, kalau anak yang pertama ketahuan Thalasemi
diusia sejak kelas 5 SD dan yang anak kedua sejak TK.
“Pertama mengetahui anak Thalasemi saya menangis,
tapi selanjutnya kita ikhtiar saja untuk tranfusi darah sesuai saran dokter dan
ikhlas saja menjalaninya,†ujar dia. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)