Batang - Direktorat Pengolahan Bina Mutu Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI memberikan bantuan stimulus kepada sejumlah Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklasar) Kabupaten Batang yang saat ini terdampak langsung pandemi Covid-19.
Batang - Direktorat Pengolahan Bina Mutu Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) RI memberikan bantuan stimulus kepada sejumlah
Kelompok Pengolah dan Pemasar Ikan (Poklasar) Kabupaten Batang yang saat ini
terdampak langsung pandemi Covid-19.
Tiap Poklasar memperoleh bantuan berupa chest
freezer 1 unit, coldbox 8 buah, keranjang plastik berlubang 8 buah, keranjang
plastik tanpa lubang 8 buah, kompor gas 1 tungku 2 unit, tabung gas 12 kg 2
buah, 2 paket pisau, panci pemindangan 2 buah dan telenan 2 buah.
Bantuan diberikan langsung oleh Wakil Bupati Batang
Suyono bersama Kepala Dinas Kelautan Perikanan dan Peternakan (Dislutkannak)
Sugiyatmo dan Camat Batang Kota Siti Ghoniah kepada perwakilan 7 Poklasar di
Pendopo Kecamatan Karangasem Utara, Kabupaten Batang, Senin (7/12/2020).
“Pemerintah Kabupaten Batang mengucapkan terima
kasih kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan RI yang menyerahkan bantuan
kepada Poklasar senilai Rp350 juta,†kata Wakil Bupati.
Lebih lanjut, dia menerangkan, bantuan tersebut
merupakan sebuah penyangga bagi para pengolah ikan yang terdampak pandemi.
Bantuan ini sangat bermanfaat dan berarti bagi Poklasar di Kabupaten Batang.
“Insya Allah dengan bantuan peralatan ini akan lebih
memacu dan memberikan semangat dalam mencari hasil tangkapan, kemudian diolah
serta dipasarkan ke sekitar wilayah Kabupaten Batang, Pekalongan, Kendal dan
Pemalang,†terangnya.
Sementara itu, Kepala Dislutkannak Sugiatmo
menyampaikan, rasa optimisme dengan diberikannya bantuan dari KKP RI, kepada 7
Poklasar yang tiap kelompoknya beranggotakan sebanyak 10 orang, akan mampu
memasarkan berbagai produk olahan ikan secara maksimal, hasilnya pun nanti akan
berdampak positif bagi kesejahteraan anggota Poklasar.
Ia juga memaparkan bahwa menjalang akhir tahun untuk
Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari hasil
para nelayan hampir mendekati Rp3,5 miliar dari yang ditargetkan Rp4 miliar
lebih.
Pihaknya menyampaikan, saat ini capaian yang harus
ditingkatkan lagi secara maksimal berkisar 15%. Namun melihat dampak pandemi
ditambah cuaca dan gelombang di lautan yang kurang kondusif, serta harga yang
menurun, maka kita pun harus mengembalikan semua kepada alam.
“Hal itu karena PT. Surimi sebagai perusahaan
pengolahan ikan saat ini mengurangi proses produksinya. Di satu sisi produk
berlimpah, namun di sisi lain penerimaan berkurang, sehingga mengakibatkan terjadinya
penurunan harga,†tuturnya.
Salah satu anggota Poklasar, Warcendet warga Dukuh
Sulur mengutarakan, nantinya bantuan dari KKP RI akan dimanfaatkan seluruh
anggota Poklasar miliknya untuk meningkatkan produksi dan pengolahan ikan hasil
tangkapan para nelayan di lautan pantura.
“Pendapatan kami ya berkurang selama ada Covid-19.
Seharusnya jika kondisi normal dan tidak ada pandemi kami bisa menghasilkan
produk ikan hingga 500 potong, tapi sekarang hanya 300 potong,†katanya.
Ia menerangkan, kini pembeli pun tak sebanyak dulu.
Jumlah ikan berlimpah, namun tak laku dijual.
“Tadinya waktu beli sama nelayan Rp18.000,00,
sekarang cuma Rp10.000,00 per kilogram dan ketika dijual dalam bentuk potongan
antara Rp1.500,00 hingga Rp5.000,00,†tandasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)