Sebanyak 30 pesepeda Ride for Palestine menempuh perjalanan 1.000 kilometer dari Surabaya menuju Jakarta dengan melintasi Kabupaten Batang untuk mengampanyekan solidaritas kemanusiaan bagi Palestina melalui olahraga bersepeda.
Batang – Sebanyak 30 pesepeda yang tergabung dalam komunitas Ride for Palestine melintasi Kabupaten Batang dalam perjalanan kampanye kemanusiaan sejauh 1.000 kilometer dari Surabaya menuju Jakarta. Kegiatan bersepeda jarak jauh tersebut merupakan bagian dari kampanye solidaritas untuk masyarakat Palestina. Selain menyuarakan kepedulian, para pesepeda ingin menunjukkan bahwa olahraga juga dapat menjadi sarana menyampaikan pesan kemanusiaan.
Humas Ride for Palestine Wirawan Dwi (55) mengatakan, kegiatan bertajuk 1.000 Km Ride for Palestine itu telah memasuki penyelenggaraan tahun ketiga. Jumlah peserta terus meningkat. Pada penyelenggaraan pertama tercatat tujuh pesepeda, kemudian bertambah menjadi 16 orang pada tahun berikutnya, dan kini mencapai 30 peserta.
“Misnya kita kampanye kemanusiaan untuk Palestina. Karena kita pesepeda, kampanye ini kita lakukan dengan bersepeda. Angka 1.000 kilometer dipilih sebagai jarak yang memiliki daya tarik tersendiri untuk mendapatkan perhatian masyarakat. Rute Surabaya-Jakarta juga memiliki makna simbolis, dengan Surabaya sebagai Kota Pahlawan dan Jakarta sebagai pusat pemerintahan serta ruang untuk menyampaikan aspirasi,” katanya saat ditemui di Alun-alun Batang, Kabupaten Batang, Minggu (8/11/2026).
Dijelaskannya, rombongan diberangkatkan dari Surabaya pada 5 November 2026 dan ditargetkan tiba di Jakarta dalam tujuh hari perjalanan. Setiap harinya, peserta menempuh jarak sekitar 150 hingga 200 kilometer. Peserta berasal dari sejumlah daerah, di antaranya Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Mojokerto, dan Malang.
“Setibanya di Jakarta, rombongan berencana mengagendakan audiensi dengan DPR RI melalui Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP). Audiensi tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk menyampaikan aspirasi masyarakat pesepeda yang turut peduli terhadap kondisi Palestina,” jelasnya.
Kita ingin menyampaikan bahwa masyarakat pesepeda juga peduli dengan Palestina. Sepeda bukan hanya untuk gaya hidup atau menjaga kesehatan, tetapi juga bisa menjadi bagian dari alat perjuangan untuk mendukung pemerintah Indonesia agar tetap berada di pihak Palestina. Selain menyuarakan solidaritas, perjalanan panjang tersebut juga menjadi pengalaman bagi para peserta untuk melatih ketahanan fisik dan mental.
Wirawan juga mengakui, sejumlah peserta masih tergolong baru dalam kegiatan bersepeda jarak jauh. Bahkan, ada peserta yang sebelumnya hanya memiliki pengalaman menempuh jarak sekitar 100 kilometer. Tantangan perjalanan semakin terasa ketika rombongan melintasi jalur perbukitan dan tanjakan di wilayah Batang, termasuk kawasan Plelen.
“Namun, tantangan tersebut menjadi bagian dari pesan yang ingin dibangun melalui kegiatan ini, yakni menumbuhkan empati terhadap masyarakat Palestina yang menghadapi berbagai kesulitan. Kami ingin sedikit merasakan bagaimana yang dirasakan warga Palestina. Tentu sangat jauh jika dibandingkan dengan penderitaan mereka. Namun, melalui perjalanan ini kami ingin merasakan panas, lelah, dan berbagai tantangan agar empati kami semakin besar,” terangnya.
Ia berharap, kegiatan 1.000 Km Ride for Palestine dapat terus berlanjut dan menjadi agenda tahunan pesepeda dari berbagai daerah di Indonesia.
Salah satu peserta, pesepeda asal Surabaya Sulis Diah mengaku, perjalanan tahun ini memiliki tantangan tersendiri, terutama karena kondisi cuaca yang cukup panas. Sulis mengikuti kegiatan tersebut untuk kedua kalinya. Pada penyelenggaraan sebelumnya, ia bersepeda bersama suaminya. Namun, tahun ini ia berangkat seorang diri karena suaminya tidak dapat mengikuti kegiatan.
“Persiapan fisik dilakukan melalui latihan bersepeda jarak jauh sebelum keberangkatan. Salah satunya dengan menempuh perjalanan latihan menuju Lamongan. Jalur di Kabupaten Batang menjadi salah satu tantangan selama perjalanan. Setelah melewati tanjakan di kawasan Gringsing, peserta harus menghadapi jalur naik turun atau rolling yang cukup Panjang,” ungkapnya.
Jalur Batang ini panjang sekali. Diawali dengan tanjakan dari Gringsing, kemudian disambut banyak jalur naik turun. Rasanya tidak sampai-sampai. Selain kontur jalan, cuaca panas dan lalu lintas kendaraan besar di jalur Pantura juga menjadi tantangan tersendiri bagi para pesepeda.
“Meski demikian, saya sangat bersyukur masih dapat melanjutkan perjalanan dan berharap seluruh rombongan diberikan keselamatan hingga tiba di Jakarta dan kembali ke rumah masing-masing,” ujar dia.
Sulis yang telah memasuki tahun ketiga bersepeda juga menyebut olahraga tersebut dipilih untuk menjaga kebugaran tubuh. Baginya, bersepeda menjadi aktivitas fisik yang lebih nyaman dibandingkan berjalan kaki, terutama ketika mengalami keluhan pada lutut.
“Melalui kegiatan ini, semoga misi kemanusiaan untuk Palestina dapat tersampaikan kepada masyarakat luas,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)