Batang - Puluhan lembar Rupiah yang telah bertahun-tahun mendekam di dasar laci meja pedagang itu kondisinya sudah mengenaskan. Sebagian lusuh melipat, sebagian lagi koyak dipatuk usia dan kelembapan. Bagi Saadah (57), uang-uang itu dulunya bak 'fosil' yang membisu tak bisa diputar untuk kembalian, apalagi dipakai belanja.
Batang - Puluhan lembar Rupiah yang telah bertahun-tahun mendekam di dasar laci meja pedagang itu kondisinya sudah mengenaskan. Sebagian lusuh melipat, sebagian lagi koyak dipatuk usia dan kelembapan. Bagi Sa’adah (57), uang-uang itu dulunya bak 'fosil' yang membisu tak bisa diputar untuk kembalian, apalagi dipakai belanja.
Untuk menukarkannya ke Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) di Tegal, warga RT 3/RW 2 Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang ini harus berpikir dua kali. Jarak tempuh dua jam perjalanan tentu memakan waktu dan ongkos yang tak sedikit.
Namun cerita itu berubah. Tanpa perlu menyeberang kabupaten, Sa’adah cukup melangkahkan kaki ke kantor Pegadaian di kecamatannya. Ia membawa tumpukan lembaran uang tak layak edar hasil dari aktivitas perdagangannya selama bertahun-tahun. Ini Rp102 ribu ditambah Rp22 ribu.
Sa'adah mengaku tak ingat lagi sudah berapa lama uang-uang itu tersimpan di lacinya. Sudah lama. Rusak memang rusak. Disimpan lama. Ia menegaskan uangnya rusak bukan karena terendam banjir, melainkan murni akibat lapuk dimakan waktu dan tingginya intensitas transaksi harian.
“Kini, dengan hadirnya titik layanan penukaran uang di Pegadaian Limpung, Sa'adah bisa bernapas lega. Uang yang tadinya mati angin bisa kembali "bernafas" menjadi modal usahanya. Ya minta ditukar uang baru biar buat kembalian dagang lagi. Iya, membantu,” katanya saat ditemui di Kantor Pegadaian Batang, Kabupaten Batang, Selasa (29/9/2026).
BI Tegal Kaget Lihat Kondisi Uang Warga
Kepala Kantor Perwakilan BI Tegal Bimala, yang meninjau langsung penukaran tersebut, mengaku terkejut saat menyaksikan fisik uang yang diserahkan warga.
“Kaget juga ya, uangnya karena kok lusuh sekali. Sepertinya sih tadi sudah lama. Terus beredar. Yang kedua, sepertinya yang itu dimakan rayap. Betapa tidak efisiennya jika masyarakat harus menempuh perjalanan jauh hanya untuk menukarkan uang rusak yang nominalnya tidak seberapa. Bayangkan total uang ibu tadi rusaknya hanya Rp120 ribu, bagaimana kalau dia harus menukarkan ke Bank Indonesia di Tegal yang jaraknya dua jam dari sini,” ungkapnya.
Melalui kemitraan ini, masyarakat tidak hanya bisa menukarkan uang rusak, tetapi juga memecah uang nominal besar menjadi pecahan kecil untuk kebutuhan harian. Masyarakat bisa menukarkan uang pecahan besar mau yang untuk kecil-kecil, katanya tadi untuk cucu. Atau bisa uang rusak. Bahkan, Bimala menegaskan tidak ada batas minimal nominal untuk penukaran. Saat ditanya apakah pecahan Rp20 ribu yang rusak juga melayani penukaran, ia menjawab tegas. Bisa ditukarkan.
Syarat Penukaran: Minimal Utuh Dua Per Tiga
Meski memberikan kemudahan, BI tetap menerapkan kriteria ketat untuk memastikan keaslian fisik uang sebelum diganti dengan uang baru layak edar. Persyaratannya, minimal itu ada dua pertiga utuh. Utuh itu artinya kita nanti ada rangkaian, terus kita nanti akan melakukan penilaian, apakah ini layak ditukar atau enggak.
“Penilaian ini penting karena uang yang sangat rusak dapat menyulitkan masyarakat dalam mengenali ciri-ciri keasliannya, sehingga berpotensi ditolak dalam transaksi pasar. Uang yang sudah rusak itu kan sulit untuk dikenali ciri-ciri keasliannya. Nah, sehingga masyarakat rugi, enggak ada yang mau terima, maka ditukarkan ke BI. Nanti uang rusak itu tentunya akan kami ganti. Nah, itulah yang menjadi beban pencetakannya,” jelasnya.
Pilot Project Perluasan Layanan Kas
Pemilihan Pegadaian sebagai mitra BI bukan tanpa alasan. Keberadaan Pegadaian yang tersebar luas hingga tingkat kecamatan dan posisinya sebagai salah satu simpul aktivitas ekonomi warga menjadi pertimbangan utama.
“Pegadaian ini tentunya sarana prasarananya lengkap, kemudian tata kelolanya juga baik. Yang paling penting adalah Pegadaian itu sekarang banyak dicari karena dia sebagai pusat ekonomi juga. Masyarakat sering ke sini, baik melakukan transaksi macam-macam dengan Pegadaian,” terangnya.
Untuk saat ini, penukaran uang di Pegadaian Limpung masih berstatus proyek percontohan (pilot project). BI Tegal berada di tahap evaluasi sebelum memutuskan perluasan ke wilayah kecamatan lainnya.
“Sebetulnya mitra layanan ini adalah second layer-nya, first layer-nya tentunya dengan perbankan. Kami sejauh ini masih akan memperluas itu dengan outlet Pegadaian saja dulu. Karena ini semacam pilot project yang nanti akan kami evaluasi. Ketika evaluasinya bagus, tentunya akan kami perluas, akan dikembangkan,” tandasnya.
Kini, warga Limpung tak perlu lagi membiarkan uang mereka membisu di dasar laci. Cukup membawa sisa fisik uang ke Pegadaian, Rupiah yang rusak pun bisa kembali bergulir memutar roda ekonomi lokal. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)