Batang Gelaran Kirab Merah Putih Kanzus Sholawat Kota Pekalongan kembali menyedot antusiasme masyarakat. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, titik kumpul dan pemberangkatan kirab tahun ini dipusatkan di Masjid Besar Tholabuddin, Desa Masin, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang.
Batang – Gelaran Kirab Merah Putih Kanzus Sholawat Kota Pekalongan kembali menyedot antusiasme masyarakat. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, titik kumpul dan pemberangkatan kirab tahun ini dipusatkan di Masjid Besar Tholabuddin, Desa Masin, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang.
Kirab kali ini dibuka langsung oleh Bupati Batang, Kapolresta Batang, dan Dandim 0736 Batang, di halaman Masjid Tholabuddin, Desa Masin, Kecamatan Warungasem, Kabupaten Batang, Jumat (18/9/2026)
Kepala Desa Masin sekaligus Ketua Panitia Kirab Merah Putih Sugiyanto menyampaikan, bahwa pemindahan lokasi dari area sekitar makam dilakukan karena lahan yang makin menyempit.
“Setelah kita berkoordinasi dengan panitia pusat maupun kecamatan, awalnya mencari alternatif lokasi ke MTs namun kurang lebar. Akhirnya disepakati di Masjid Besar Tholabuddin karena halamannya lebih luas. Pihak takmir juga sudah menyetujui, tidak ada masalah,” jelasnya.
Sugiyanto juga menjelaskan, selain elemen masyarakat, organisasi, dan badan otonom (banom) seperti Petanesia, Satpol PP, serta Banser yang mendominasi barisan, unsur TNI juga terpantau bertambah.
“Alhamdulillah peserta masih solid seperti dulu, bahkan ada penambahan dari TNI. Selain Yonif 407 Pekalongan dan Kodim Batang yang sudah biasa ikut, tahun ini ada tambahan dua kompi dari kesatuan baru (Yonif) di Sigayam dan Bojong,” terangnya.
Ia juga menceritakan, nilai historis dan patriotisme yang menjadi ruh utama pelaksanaan Kirab Merah Putih tersebut. Kegiatan ini merupakan napak tilas untuk mengenang heroisme para tokoh ulama, santri, dan pejuang di sekitar Kecamatan Warungasem, seperti Desa Masin dan Candiareng pada masa penjajahan Belanda.
“Di masa lampau, para ulama asal Warungasem ini dengan gagah berani bergerak menuju Pekalongan untuk menurunkan bendera Belanda di wilayah Karesidenan Pekalongan dan menggantinya dengan bendera Merah Putih,” ungkapnya.
Sempat terjadi kejar-kejaran. Tokoh ulama yang menurunkan bendera itu dikejar penjajah sampai ke sini (Warungasem), tapi tidak tertangkap karena berhasil bersembunyi. Keteguhan para ulama, santri, dan warga inilah yang kita teladani demi menumbuhkan rasa cinta kepada Sang Merah Putih dan negara kita.
Sementara itu, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengingatkan, bahwa bendera Merah Putih yang diarak menyimpan sejarah perjuangan serta janji besar untuk menjaga keutuhan bangsa dari perpecahan.
“Di Warungasem ini, di Masin ini, rakyat pernah berdiri, ulama pernah memimpin, pemuda pernah berani. Merah itu keberanian dan darah para pejuang, sedangkan putih adalah janji bahwa bangsa ini akan tetap suci dari perpecahan,” ujar dia.
Ia juga mengajak, seluruh elemen masyarakat, mulai dari pelajar, pemuda, santri, hingga jajaran TNI-Polri, Banser dan peserta lainnya untuk menjadikan momentum ini sebagai pembuktian rasa cinta tanah air.
“Akankah merah putih hanya berkibar di tiang atau berkibar di hati. Kita adalah bangsa yang lahir dari perbedaan tetapi memilih untuk bersatu,” tandasnya.
Dalam kirab ini, ratusan peserta berjalan kaki menempuh rute sejauh kurang lebih 12 kilometer dari Desa Masin menuju garis finis di Alun-Alun Kota Pekalongan. (MC Batang, Jateng/Jumadi)