Batang - Budaya literasi di Kabupaten Batang kian menggema dibuktikan dengan program Sak Minggu Sak Buku yang diinisiasi oleh Bunda Literasi Faelasufa Faiz Kurniawan yang menyasar hingga jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pembiasaan itulah yang kini mulai mendarah daging di hampir tiap kegiatan kemasyarakatan melalui pemanfaatan Perpustakaan Desa yang merupakan binaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpuska) Batang.
Batang - Budaya literasi di Kabupaten Batang kian menggema dibuktikan dengan program Sak Minggu Sak Buku yang diinisiasi oleh Bunda Literasi Faelasufa Faiz Kurniawan yang menyasar hingga jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Pembiasaan itulah yang kini mulai mendarah daging di hampir tiap kegiatan kemasyarakatan melalui pemanfaatan Perpustakaan Desa yang merupakan binaan dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpuska) Batang.
Bersamaan dengan dibukanya even tahunan Festival Literasi 2026, Bunda Literasi Batang Faelasufa Faiz Kurniawan pun membenarkan, saat ini budaya membaca dari tingkat PAUD mulai menunjukkan peningkatan. Hal ini dilihat dari antusiasme saat menyimak dongeng yang disampaikan, yang tentu tidak lepas dari peran pendidik maupun pengelola perpustakaan yang intens mendukung program Sak Minggu Sak Buku.
“Sekarang bisa dilihat di jenjang PAUD anak-anak menunjukkan ketertarikannya untuk membaca, lewat kebiasaan mendengarkan cerita. Tentu akan lebih baik lagi apabila didukung oleh ekosistem keluarga yang gemar membaca, misalnya orang tua yang intens membaca berita di koran, tentu akan menarik minat anak untuk ikut membaca buku,” katanya saat ditemui di halaman Disperpuska Batang, Kabupaten Batang, Senin (14/9/2026).
Faelasufa pun tak menampik, masih banyak kendala, salah satunya infrastruktur yang memadai, untuk mewujudkan pembiasaan positif tersebut.
“Sak Minggu Sak Buku ini, jadi upaya kami untuk mengetahui sejauh mana minat baca dan kendala apa saja yang perlu ditangani, misalnya koleksi buku yang perlu ditambah untuk kelengkapan perpusstakaan desa maupun sekolah,” jelasnya.
Di sisi lain, hobi dari Bunda Literasi yang rutin membedah buku-buku yang dibacanya melalui platform Instagram, justru menarik perhatian Duta Baca Indonesia, Gol A Gong. Ia mengapresiasi hobi dan gaya komunikasi Bunda Literasi yang komunikatif, sehingga mampu memotivasi generasi muda untuk membiasakan diri dengan budaya membaca buku.
“Baru kali ini saya ketemu Bunda Literasi yang betul-betul menguasai seputar literasi. Nah sangat bagus, apabila Bunda Literasi Batang mau "mewakafkan" untuk jadi Duta Baca Indonesia, karena saat ini minim sekali untuk dikaderisasi,” terangnya.
Diakuinya, sejak didaulat menjadi Duta Baca Indonesia, hampir seluruh kegiatan Safari Literasi ke lintas provinsi dan pulau, menggunakan dana dari hasil penjualan buku. Hal ini dikarenakan sudah tidak ada lagi anggaran yang berasal dari APBN, untuk mendukung Safari Literasi di Nusantara.
“Tahun ini saya berencana mau safari ke Jawa dan Sumatera memang tidak ada dananya. Nah, Bunda Literasi Batang dengan kapasitasnya, suka baca sampai dapat beasiswa ke luar negeri, bahkan didukung orang tua untuk beli buku kesukaannya, jadi tepat jika tahun depan didaulat jadi Duta Baca Indonesia,” ujar dia.
Tentunya, harapan tersebut dapat terealisasi apabila mendapat dukungan penuh dari sang suami, yakni Bupati Batang M Faiz Kurniawan.
“Apabila semuanya mendukung, tinggal menjalankan misi membudayakan baca di seluruh Nusantara dengan dukungan publikasi media yang tepat,” tandasnya. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)