Batang Ada cara unik yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Batang untuk memantik antusiasme masyarakat, khususnya anak-anak, agar makin gemar membaca. Tak tanggung-tanggung, iming-iming hadiah segar disiapkan bagi siapa saja yang rajin menyambangi perpustakaan.
Batang – Ada cara unik yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Batang untuk memantik antusiasme masyarakat, khususnya anak-anak, agar makin gemar membaca. Tak tanggung-tanggung, iming-iming hadiah segar disiapkan bagi siapa saja yang rajin menyambangi perpustakaan.
Dukungan itu disampaikan langsung oleh Bupati Batang M. Faiz Kurniawan saat membuka ajang Festival Literasi di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Disperpuska) Batang, Kabupaten Batang, Senin (14/9/2026).
“Strategi manis ini digagas untuk merangsang minat baca warga sejak dini. Nanti kita sediakan setiap hari 50 es krim untuk peminjam buku di perpustakaan ini selama sebulan ke depan. Jadi 50 es krim dikali 30 berarti berapa? 1.500 es krim akan kita sediakan,” jelasnya.
Langkah ini memperkuat optimisme Bunda Literasi Batang Faelasufa Faiz Kurniawan. Menurutnya, ketertarikan anak-anak terhadap dunia buku sebenarnya sudah terlihat sejak usia dini, hanya saja butuh ekosistem pendukung agar minat tersebut terus terjaga hingga mereka dewasa.
“Iya, menurut saya sekarang banyak anak-anak tuh yang suka baca. Dulu zaman saya TK jarang banget kan kita baca buku di TK, atau lihat orang-orang baca buku di TK. Sekarang kalau saya ke PAUD-PAUD di Batang, anak-anaknya itu sangat antusias ketika kami bercerita,” ungkapnya.
Faelasufa menyoroti tantangan yang kerap membuat kegemaran membaca meredup saat anak-anak tumbuh dewasa. Menurutnya, keterbatasan akses hingga kurangnya dorongan dari lingkungan terdekat sering kali menjadi ganjalan utama.
“Bisa jadi, karena memang dukungan ekosistem keluarganya nggak ada, nggak ada inspirasi di rumahnya, atau infrastruktur yang tersedia di sekeliling mereka juga limited, kurangnya buku-buku yang ada,” terangnya.
Guna mengikis hambatan tersebut, gerakan “Sak minggu Sak buku” digulirkan sebagai wahana memperluas jangkauan literasi hingga ke tingkat tapak. Melalui kolaborasi lintas komunitas, keterbatasan koleksi di sekolah perlahan berhasil teratasi.
“Untuk program Sak minggu Sak buku sendiri, itu adalah salah satu hal yang kami ciptakan untuk menggerakkan budaya literasi di masyarakat. Ketika itu diimplementasikan ya kita jadi tahu ada masalah-masalah misalkan, 'Oh sekolah kita bukunya terbatas,' seperti itu. Tapi alhamdulillah dengan kolaborasi dengan perpustakaan desa, dengan komunitas baca setempat di desa-desa tersebut masih bisa berjalan, mereka bisa dapat akses buku-buku yang lebih banyak,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)