Batang - Gelap malam di Jalan Veteran, Kabupaten Batang, mendadak sirna berganti kerlip cahaya dan riuk parade. Gemerlap lampu, gaun-gaun karnaval megah, serta derap langkah 20 kontingen sukses mengubah jalanan kota menjadi panggung pertunjukan terbuka yang menyedot perhatian ribuan pasang mata.
Batang - Gelap malam di Jalan Veteran, Kabupaten Batang, mendadak sirna berganti kerlip cahaya dan riuk parade. Gemerlap lampu, gaun-gaun karnaval megah, serta derap langkah 20 kontingen sukses mengubah jalanan kota menjadi panggung pertunjukan terbuka yang menyedot perhatian ribuan pasang mata.
Sejak rombongan Paskibraka membentangkan bendera merah putih sepanjang 81 meter di garis awal, antusiasme warga tak terbendung. Barisan peserta dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD), kecamatan, hingga pelajar menyusuri rute dengan menampilkan beragam identitas visual dan narasi tradisi.
Satu di antara penampilan yang paling banyak mencuri perhatian mengusung tema “Kilau Bahari Nusantara, Peradaban Baru Batang untuk Menuju ke Dunia.” Konsep ini meleburkan cerita rakyat Batang dengan geliat ekonomi bahari dan galangan kapal yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah daerah setempat.
Nanik Nurkhalilah (45), salah satu peserta parade, mengungkapkan tantangan sekaligus keunikan dari pertunjukan tersebut.
“Alhamdulillah sangat meriah, luar biasa, beda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena pada malam hari ini kita harus mengusung tema yang kalau dari kecamatan itu harus menyatukan tiga kecamatan sekaligus dalam satu cerita,” katanya saat ditemui di Jalan Veteran batang, Kabupaten Batang, Sabtu (22/8/2026) malam.
Rangkaian cerita tersebut memadukan kisah dari Kecamatan Batang, Kandeman, dan Tulis, lengkap dengan hadirnya visualisasi tokoh legenda Dewi Lanjar dan ornamen naga. Lebih dari sekadar pertunjukan visual, Nanik berharap pesan budaya ini terus terekam di ingatan anak muda.
“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan ini, anak-anak yang Gen Z bisa meneruskan budaya di Kecamatan Batang, khususnya di Kecamatan Batang yaitu galangan kapal. Walaupun ada pabrik-pabrik, galangan kapal di Batang tetap bisa mendunia,” harapnya.
Di panggung kehormatan, Bupati Batang M. Faiz Kurniawan yang hadir bersama jajaran Forkopimda memberikan apresiasi tinggi atas garapan kreatif para seniman lokal, mulai dari Dewan Kesenian Daerah (DKD) hingga komunitas Sekar Gading.
“Berjalan dengan baik, meriah, masyarakat antusiasnya tinggi, dan menurut saya sih ini menjadi momen penting kita untuk penyelenggaraan Batang Night Carnival berikutnya,” jelasnya.
Faiz menegaskan, bahwa gelaran malam hari ini sengaja dirancang dengan alur cerita kebudayaan yang terstruktur agar memiliki identitas pembeda dari peringatan Hari Jadi Kabupaten Batang.
“Yang kita tekankan adalah alur cerita kebudayaan Kabupaten Batang tahun ini, yang ditampilkan masing-masing kontingen dengan part yang berbeda-beda. Ke depannya kita penginnya, setiap tahun itu temanya beda-beda. Jadi tahun depan mungkin kita akan menampilkan tema yang berbeda lagi,” ujar dia.
Tak sekadar merayakan seni, Batang Night Carnival 2026 juga menyelipkan aksi kemanusiaan melalui penggalangan donasi via kode QR untuk warga terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Meski terdapat beberapa catatan teknis terkait keterbatasan waktu tampil bagi sejumlah kontingen di panggung utama, pendar cahaya dan narasi budaya malam itu berhasil meninggalkan kesan mendalam bagi warga Batang,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)