Batang - Beban berat pengobatan seumur hidup dan rentannya kelelahan mental (caregiver burnout) mendorong Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Batang menggandeng Rizal Bawazier Center (RB Center) untuk menggelar konseling psikologis gratis. Agenda bertajuk Temu Tumbuh Talasemia tersebut berlangsung di RB Center, Jalan Pemuda Pasekaran, Kabupaten Batang, Selasa (2872026).
Batang - Beban berat pengobatan seumur hidup dan rentannya kelelahan mental (caregiver burnout) mendorong Perhimpunan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Cabang Batang menggandeng Rizal Bawazier Center (RB Center) untuk menggelar konseling psikologis gratis. Agenda bertajuk Temu Tumbuh Talasemia tersebut berlangsung di RB Center, Jalan Pemuda Pasekaran, Kabupaten Batang, Selasa (28/7/2026).
Menghadirkan psikolog Nila Fariyyal Muna, kegiatan ini memfokuskan pendampingan kesehatan mental melalui sesi berbagi kelompok hingga konseling pribadi. Langkah ini diambil sebagai respons nyata atas besarnya tekanan emosional keluarga pasien akibat minimnya edukasi masyarakat serta stigma negatif di lingkungan sekitar.
Ketua POPTI Batang Netty Widjayanti menegaskan, bahwa perjuangan melawan talasemia tidak berhenti pada pemulihan fisik semata. Menurutnya, pendampingan seumur hidup kerap kali menguras mental para orang tua.
“Banyak masyarakat yang belum paham dan menganggap talasemia hanya sekadar kurang darah biasa, padahal anak-anak kita harus menjalani transfusi darah secara rutin seumur hidup. Stigma dan rasa tidak dipahami dari lingkungan sekitar inilah yang sering membuat mental lelah. Melalui layanan konseling ini, kami ingin menguatkan kembali rasa percaya diri mereka,” jelasnya.
Dalam sesi pendampingan, Psikolog Nila Fariyyal Muna menyoroti kerentanan emosional yang mengintai penyandang talasemia maupun pendampingnya. Ia menyebut perawatan jangka panjang berpotensi memicu stres berkepanjangan hingga kecemasan mendalam.
“Menghadapi penyakit kronis yang memerlukan perawatan jangka panjang dapat meningkatkan risiko munculnya stres berkepanjangan. Orang tua sebagai caregiver juga berisiko mengalami kelelahan fisik dan emosional (caregiver burnout) karena sebagian besar energi dan perhatian tercurah untuk merawat anak, sehingga kebutuhan diri sendiri sering kali terabaikan, karena fokus merawat anak hingga mengabaikan kesehatan mentalnya sendiri. Oleh karena itu, keberadaan komunitas pendukung seperti ini sangat penting agar mereka bisa saling menguatkan,” terangnya.
Nila pun mendorong agar komunitas ini secara konsisten membentuk Self-Help Group atau wadah pendukung mandiri yang rutin berkumpul. Wadah ini diharapkan diisi dengan ragam aktivitas edukatif, menyenangkan, serta rutin dibimbing psikolog guna merawat daya tahan (resiliensi) emosional para anggota.
Komitmen pendampingan ini mendapat dukungan penuh dari pihak fasilitas. Pengurus RB Center Batang Bachtiar Rifa'i menyatakan, kesiapan lembaganya untuk terus memfasilitasi berbagai aksi sosial dan kemanusiaan bagi warga Batang.
“Sebagai rumah aspirasi Anggota DPR RI dari Fraksi PKS, Bapak Rizal Bawazier, RB Center berkomitmen untuk selalu terbuka dan memfasilitasi kegiatan yang berdampak langsung bagi masyarakat. Kami berharap layanan psikologis ini memberikan manfaat nyata dan rasa nyaman bagi para pejuang talasemia serta orang tua mereka,” ujar dia.
Diikuti puluhan pejuang talasemia beserta jajaran pengurus POPTI Batang, agenda ini tidak hanya menjadi wadah konseling, tetapi juga ruang hangat untuk saling menguatkan sesama pejuang kesehatan mental di Kabupaten Batang. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)