Batang - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Batang mengawal ketat pendistribusian dan edukasi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
Batang - Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Batang mengawal ketat pendistribusian dan edukasi program Makanan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok sasaran 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD.
Langkah ini dilakukan sebagai upaya mempercepat penurunan angka stunting di wilayah tersebut sejak dari hulu. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala DP3AP2KB Batang Joko Prasetijo.
“Bahwa pelaksanaan program ini merujuk pada regulasi Perpres Nomor 115, di mana fokus dinas tidak hanya sekadar membagikan makanan, melainkan juga mengedukasi masyarakat penerima manfaat,” katanya saat ditemui di Kantornya, Senin (27/7/2026).
Kita mendapat perintah untuk melakukan distribusi dan edukasi terhadap makanan bergizi gratis untuk sasaran 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD. Kenapa non-PAUD, Karena yang PAUD sudah masuk di satuan pendidikan.
“Dalam pelaksanaannya di lapangan, DP3AP2KB mengoptimalkan peran Tim Pendamping Keluarga (TPK) yang berada di setiap desa. Petugas yang telah terlatih ini berkolaborasi dengan pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk menentukan mekanisme penyaluran terbaik sesuai kearifan lokal setempat, seperti penyaluran di titik tertentu (drop point) hingga kegiatan makan bersama,” jelasnya.
Joko jugamenekankan, pentingnya pengawasan agar bantuan nutrisi tersebut tepat sasaran dan benar-benar dikonsumsi oleh penerima manfaat, terutama sejak masa kehamilan.
“Dinas kami melakukan supervisi, memastikan bahwa makanan yang diberikan ini satu, sesuai sasaran tentunya; yang kedua, tepat sasaran; kemudian betul-betul sampai kepada sasaran itu dan dimanfaatkan,” tegasnya.
Kendala Ditemukan di Wilayah Terjauh
Meskipun secara umum program MBG sudah berjalan dan melayani hampir seluruh wilayah melalui SPPG setempat, pihak dinas mengakui masih terdapat tantangan geografis di lapangan. Salah satunya terjadi di Desa Pranten, kecamatan paling ujung dengan medan yang terbilang berat.
Joko mengungkapkan, bahwa hingga saat ini distribusi program MBG bagi sasaran ibu hamil, anak sekolah, maupun kelompok 3B di Desa Pranten belum terealisasi secara penuh akibat kendala jarak dan jangkauan.
“Desa Pranten itu daerah terjauh. Dan ternyata disana belum dapat MBG. Nanti coba kebijakan dari tim kabupaten seperti apa, kita masih menunggu,” ujar dia.
Pihak DP3AP2KB Batang saat ini masih berkoordinasi dan menunggu arahan lebih lanjut dari tim tingkat kabupaten untuk merumuskan formulasi serta jalan keluar teknis, termasuk penyesuaian biaya operasional dan rute distribusi agar masyarakat di wilayah terisolir seperti Desa Pranten dapat segera merasakan manfaat program nutrisi tersebut. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)