Batang - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Batang hari itu terasa berbeda. Di antara deretan materi adaptasi sekolah, terselip sebuah edukasi krusial yang bakal menentukan masa depan generasi penerus: pengenalan tentang penyakit kelainan darah genetik, talasemia. Bagi sebagian besar pelajar, istilah ini terdengar asing. Namun, lewat pendekatan yang interaktif, suasana kelas justru hidup dengan rentetan pertanyaan dari para siswa yang penasaran.
Batang - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SMAN 2 Batang hari itu terasa berbeda. Di antara deretan materi adaptasi sekolah, terselip sebuah edukasi krusial yang bakal menentukan masa depan generasi penerus: pengenalan tentang penyakit kelainan darah genetik, talasemia. Bagi sebagian besar pelajar, istilah ini terdengar asing. Namun, lewat pendekatan yang interaktif, suasana kelas justru hidup dengan rentetan pertanyaan dari para siswa yang penasaran.
Dokter Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Batang Tan Evi Susanti yang hadir sebagai pemateri, mengungkapkan bahwa momen MPLS adalah kesempatan emas untuk menyuntikkan pemahaman ini kepada para remaja.
“Hari ini dalam rangka mensosialisasikan talasemia kepada anak-anak remaja, khususnya saat MPLS. Dalam MPLS ini kan waktu yang sangat tepat ya, untuk memberikan edukasi kepada pelajar yang harus sejak sedini mungkin mengenal apakah itu talasemia dan bagaimana pencegahanya,” katanya saat ditemui di Aula SMAN 2 Batang, Kabupaten Batang, Kamis (16/7/2026).
Respons para siswa di luar dugaan. Rasa ingin tahu mereka memuncak saat membahas bagaimana penyakit ini diturunkan dan cara menanganinya. Alhamdulillah tadi saat pengisian materi sangat interaktif, para pelajat antusiasme bertanya tentang apa itu talasemi, cara pencegahan dan penangangannya.
Urgensi edukasi ini bukan tanpa alasan. Data dari Persatuan Orang Tua Penderita Talasemia Indonesia (POPTI) Batang mencatat, saat ini sudah ada sekitar 40 lebih penyintas talasemia yang tersebar di hampir 15 kecamatan.
Tan Evi Susanti juga menerangkan Kelainan Darah Genetik: Talasemia adalah penyakit kelainan sel darah merah yang diturunkan dari orang tua ke anak. Tubuh penderita tidak mampu memproduksi cukup hemoglobin (protein pengangkut oksigen), sehingga sel darah merahnya mudah rusak dan memicu anemia kronis.
Ada tiga kategori utama talasemia yakni
“Hingga saat ini, talasemia belum bisa disembuhkan secara total (kecuali metode transplantasi sumsum tulang yang sangat mahal dan kompleks). Pengobatan seumur hidup membutuhkan biaya yang sangat besar serta kesiapan mental dari keluarga pasien. Satu-satunya cara memutus rantai talasemia mayor adalah dengan skrining dini sebelum menikah,” jelasnya.
?Adapun skema penurunan sifat ini sangat penting bagi anak - anak remaja.
Jika Pembawa Sifat (Minor) ? Pasangan Sehat (Normal) menikah: Anak tidak akan ada yang menderita Talasemia Mayor (50% kemungkinan sehat, 50% pembawa sifat).
?Jika Pembawa Sifat (Minor) ? Pembawa Sifat (Minor) menikah: ?Ada risiko 25% melahirkan anak penderita Talasemia Mayor pada setiap kehamilan.
Langkah Pencegahan Utama (Deteksi Dini)
?Skrining Pranikah (Pre-marital Screening): Sangat dianjurkan bagi remaja, calon pengantin, atau keluarga yang memiliki riwayat talasemia untuk melakukan tes darah (pemeriksaan Hb dan indeks eritrosit MCV/MCH).
“Hindari Pernikahan Sesama Pembawa Sifat, demi mencegah lahirnya generasi baru dengan talasemia mayor,” tegasnya.
Bagi para siswa, sosialisasi ini membuka mata mereka. Haidar salah seorang siswa berkacamata yang mengenakan baju batik mengaku baru pertama kali mendengar istilah medis ini. Ketika ditanya mengenai kesannya, ia menjawab jujur.
“Nggak, nggak tahu. Menurut saya seru, dan menarik. Soalnya saya bisa tahu tentang talasemia. Sebelumnya saya itu tidak tahu,” ungkapnya.
Menariknya, pemahaman singkat itu langsung membekas. Saat ditanya bagaimana cara mencegah agar tidak lahir anak dengan kondisi talasemia di masa depan, siswa tersebut sudah bisa menangkap esensi materi dengan baik.
Sementara itu, Ketua POPTI Batang Nety Widjayanti menegaskan bahwa sosialisasi ke sekolah-sekolah merupakan wujud kepedulian nyata agar para remaja paham konsekuensi dalam memilih pasangan hidup kelak.
“Kita mengusung tema dalam sosialisasi ini yakni zero talasemia. Karena kita tidak ingin keturunan mereka terlagir dengan penyandu talasemia,” ujar dia.
Nety juga mengingatkan bahwa langkah awal yang paling krusial adalah dengan melakukan deteksi dini.
“Oleh karena itu skrining HB sejak dini itu penting untuk mengetahui seseorang pembawa sifat," pungkasnya, berharap gerakan ini bisa menyelamatkan masa depan generasi Batang dari belenggu talasemia,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Edo/Jumadi)