Batang - Program Resiliensi Industri Masa Depan (PRIMA) yang diinisiasi Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) resmi ditutup melalui upacara closing ceremony di Taman Tematik KEK Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jumat (372026).
Batang - Program Resiliensi Industri Masa Depan (PRIMA) yang diinisiasi Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) resmi ditutup melalui upacara closing ceremony di Taman Tematik KEK Industropolis Batang, Kabupaten Batang, Jumat (3/7/2026).
Program tersebut menjadi salah satu upaya menyiapkan lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga karakter dan mental yang kuat untuk memasuki dunia kerja. Sebanyak 160 siswa dari delapan SMK di Kabupaten Batang mengikuti pembekalan intensif selama lima hari, sejak 29 Juni hingga 3 Juli 2026, dengan melibatkan delapan tenant industri di kawasan KITB.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur Utama KEK Industropolis Batang Indri Septa Respati mengatakan, kawasan industri memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah.
“Kebutuhan investor tidak hanya sebatas tersedianya infrastruktur maupun kepastian perizinan, tetapi juga tenaga kerja yang siap bekerja dan memiliki karakter yang sesuai dengan kebutuhan industri. PRIMA hadir untuk membangun mentalitas siswa agar lebih tangguh dan siap menghadapi dunia kerja setelah lulus sekolah,” jelasnya.
Ia menjelaskan, pendidikan karakter menjadi fokus utama dalam program tersebut. Hal itu dilatarbelakangi tingginya angka turnover pekerja baru di sejumlah perusahaan yang mencapai sekitar 30 persen karena belum siap menghadapi budaya kerja industri.
“Karakter menjadi bekal penting agar mereka tidak hanya diterima bekerja, tetapi juga mampu bertahan dan berkembang di lingkungan industri yang bersifat global dan multinasional. Menjadi buruh bukanlah akhir dari perjalanan karier seseorang. Justru dari posisi tersebut, setiap pekerja memiliki peluang untuk terus berkembang hingga menduduki jabatan strategis,” terangnya.
Indri Septa menyebutkan, dirinya sendiri memulai karier dari kawasan industri. Dengan pengalaman, karakter, dan kemauan belajar, seseorang bisa berkembang menjadi manajer, pimpinan perusahaan, bahkan menjadi wirausaha.
Ia juga memastikan, program PRIMA akan terus dilanjutkan pada tahun-tahun mendatang seiring berkembangnya kawasan industri dan meningkatnya kebutuhan tenaga kerja.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Sekda Batang Sri Purwaningsih mengapresiasi sinergi KITB, dunia pendidikan, serta mitra industri yang telah menyelenggarakan program tersebut. Para peserta telah melalui proses pembelajaran yang tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga membentuk kedisiplinan, etos kerja, manajemen waktu, serta kemampuan bekerja sama dalam tim.
“Resiliensi adalah kemampuan untuk bertahan, bangkit dari kegagalan, dan mampu beradaptasi di tengah perubahan. Nilai inilah yang harus dimiliki generasi muda dalam menghadapi dunia industri masa depan,” tegasnya.
Sri menegaskan, Pemkab Batang ingin memastikan lulusan SMK mampu menjadi pelaku utama pembangunan ekonomi daerah, bukan sekadar menjadi penonton di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri. Program PRIMA merupakan langkah nyata untuk memperkuat link and match antara pendidikan vokasi dengan kebutuhan riil dunia industri, sehingga lulusan SMK memiliki daya saing tinggi dan siap terserap pasar kerja.
Dukungan terhadap program tersebut juga datang dari para orang tua peserta. Salah satunya, Evi Susilawati, warga Tosono, Kalongan, mengaku sempat merasa khawatir ketika anaknya mengikuti pembekalan yang cukup intensif.
Namun, ia tetap memberikan dukungan penuh karena meyakini pengalaman tersebut akan menjadi bekal berharga bagi masa depan anaknya.
“Sebagai orang tua tentu khawatir, tetapi saya tetap memberi semangat. Saya bangga anak saya bisa mengikuti program ini karena akan menjadi pengalaman yang sangat bermanfaat,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)