Batang - Di tengah dinamika harga bahan baku, usaha kerupuk rumahan milik Titik Tarkumi di Kebundelan, Kelurahan Karangasem Utara, Kabupaten Batang, tetap bertahan dan berkembang. Usaha yang telah dikelola secara turun-temurun selama puluhan tahun ini mampu menyerap belasan tenaga kerja sekaligus memasok kerupuk ke berbagai daerah di Jawa Tengah.
Batang - Di tengah dinamika harga bahan baku, usaha kerupuk rumahan milik Titik Tarkumi di Kebundelan, Kelurahan Karangasem Utara, Kabupaten Batang, tetap bertahan dan berkembang. Usaha yang telah dikelola secara turun-temurun selama puluhan tahun ini mampu menyerap belasan tenaga kerja sekaligus memasok kerupuk ke berbagai daerah di Jawa Tengah.
Titik Tarkumi (55) mengatakan, usaha pembuatan kerupuk tersebut merupakan warisan keluarga dari mertuanya. Ia sendiri telah terlibat mengelola usaha tersebut selama kurang lebih 30 tahun.
“Usaha ini sudah turun-temurun dari mertua. Saya sendiri sudah ikut mengelola sekitar 30 tahunan. Saat permintaan pasar meningkat, usaha tersebut mempekerjakan sekitar 16 hingga 17 karyawan, terdiri atas 11–12 pekerja laki-laki dan lima pekerja perempuan,” katanya saat ditemui di Kebundelan, Kelurahan Karangasem Utara, Kabupaten Batang, Kamis (2/7/2026).
Produk utama yang dihasilkan adalah kerupuk kotak dengan beberapa pilihan warna, mulai dari kuning hingga campuran merah, putih, dan kuning. Harga jual kerupuk di tingkat pabrik saat ini mencapai Rp16 ribu per kilogram atau Rp80 ribu per kantong berisi lima kilogram. Sementara untuk pengiriman ke luar daerah, harga menjadi Rp17 ribu per kilogram karena memperhitungkan biaya transportasi.
Menurutnya, harga tersebut baru saja mengalami penyesuaian sebesar Rp1.000,00 per kilogram akibat kenaikan harga bahan baku pati. Kemarin terpaksa naik karena harga pati sudah tinggi. Kerupuk produksinya dipasarkan ke sejumlah wilayah di Jawa Tengah, seperti Weleri, Kaliwungu, Kendal, Cepiring, Pemalang, hingga Mranggen, Kabupaten Demak.
“Sistem penjualan dilakukan secara langsung maupun berdasarkan pesanan. Konsumen dapat membeli langsung ke lokasi produksi apabila stok tersedia dan harga sesuai kesepakatan. Selain itu, pengiriman dilakukan menyesuaikan permintaan pasar. Apabila stok belum tersedia, pembeli harus menunggu proses produksi,” jelasnya.
Titik juga menyebutkan, untuk menjaga kontinuitas pasokan, proses produksi dilakukan setiap hari, kecuali hari Jumat yang menjadi waktu libur produksi. Keberlangsungan usaha ini menjadi salah satu contoh ketahanan pelaku UMKM di Kabupaten Batang dalam mempertahankan usaha keluarga sekaligus membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat sekitar.
“Dengan jangkauan pemasaran yang terus berkembang, industri rumahan tersebut turut berkontribusi dalam menggerakkan perekonomian lokal,” pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)