Batang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang meluncurkan Program Ketan Budaya (Kolaborasi Pelestarian Budaya melalui Pengembangan Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar Ekstrakurikuler Dolanan Anak) melalui Festival Dolanan Anak di halaman Pendopo Kabupaten Batang, Rabu (172026).
Batang - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Batang meluncurkan Program Ketan Budaya (Kolaborasi Pelestarian Budaya melalui Pengembangan Kurikulum Pendidikan Sekolah Dasar Ekstrakurikuler Dolanan Anak) melalui Festival Dolanan Anak di halaman Pendopo Kabupaten Batang, Rabu (1/7/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 150 peserta dari 11 sekolah dasar tersebut menjadi langkah awal Pemerintah Kabupaten Batang dalam menghidupkan kembali permainan tradisional sebagai bagian dari pendidikan karakter sekaligus pelestarian budaya lokal.
Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdikbud Batang Nurlaili Endahwati mengatakan, program tersebut lahir dari keprihatinan terhadap semakin berkurangnya pengetahuan anak-anak tentang budaya bangsa di tengah derasnya pengaruh budaya luar dan penggunaan gawai.
“Program ini merupakan implementasi inovasi Ketan Budaya. Kami melihat anak-anak saat ini lebih mengenal permainan modern dan budaya luar dibandingkan dolanan tradisional yang menjadi warisan leluhur. Karena itu, kami ingin menghadirkannya kembali melalui kegiatan ekstrakurikuler di sekolah,” jelasnya.
Ia menjelaskan, Festival Dolanan Anak menjadi bagian dari launching program yang nantinya akan diterapkan secara bertahap di sekolah dasar melalui kegiatan ekstrakurikuler. Sebanyak 11 sekolah ditunjuk sebagai pilot project yang berasal dari Kecamatan Batang, Kandeman, dan Tulis. Melalui sekolah percontohan tersebut diharapkan model pembelajaran berbasis permainan tradisional dapat dikembangkan ke seluruh sekolah dasar di Kabupaten Batang.
“Dalam festival tersebut, para peserta memainkan berbagai permainan tradisional yang selama ini mulai jarang dijumpai di lingkungan masyarakat. Sedikitnya terdapat 10 jenis dolanan anak yang diperkenalkan kembali, di antaranya Gobak Sodor, Egrang, Suda Manda, Semprangan, Bekelan, Nekeran, Yoyo, hingga permainan Das-dasan atau Dam-daman,” terangnya.
Menurut Nurlaili, permainan tradisional tidak sekadar menjadi hiburan, tetapi juga memiliki banyak manfaat dalam tumbuh kembang anak. Selain melatih kemampuan motorik dan sensorik, permainan tradisional juga mengandung unsur olahraga yang mampu meningkatkan kebugaran fisik peserta didik. Setiap permainan mengajarkan nilai-nilai pendidikan karakter seperti kerja sama, gotong royong, sportivitas, kejujuran, kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, hingga pengendalian emosi.
“Anak-anak belajar bekerja sama dalam kelompok, belajar mematuhi aturan permainan, menghargai teman, serta berkompetisi secara sehat. Nilai-nilai seperti inilah yang ingin kami tanamkan sejak usia dini. Permainan tradisional juga menjadi alternatif positif untuk mengurangi ketergantungan anak terhadap penggunaan gadget yang kini semakin mendominasi aktivitas sehari-hari,” tegasnya.
Melalui aktivitas bermain secara langsung bersama teman sebaya, anak-anak diharapkan memiliki kemampuan sosial yang lebih baik sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang menyenangkan. Program Ketan Budaya juga menjadi bagian dari upaya Disdikbud Batang untuk memasukkan unsur pelestarian budaya lokal ke dalam proses pendidikan di sekolah.
“Dengan pendekatan tersebut, peserta didik tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga memahami kekayaan budaya bangsa yang menjadi identitas daerah. Kami ingin anak-anak mencintai budaya sendiri sejak dini. Jangan sampai mereka hanya mengenal permainan digital, tetapi tidak mengenal permainan yang dulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia,” ungkapnya.
Nurlaili berharap, pelaksanaan program ini dapat terus berkembang dan diadopsi oleh seluruh sekolah dasar di Kabupaten Batang. Apabila permainan tradisional kembali menjadi bagian dari aktivitas belajar, maka nilai-nilai budaya sekaligus karakter positif dapat diwariskan kepada generasi muda secara berkelanjutan.
“Kami berharap, program ini mampu membentuk karakter anak-anak yang lebih baik, lebih aktif, memiliki kepedulian sosial, serta semakin mencintai budaya warisan luhur nenek moyang,” pungkasnya.
Melalui Festival Dolanan Anak, Pemerintah Kabupaten Batang menegaskan komitmennya untuk menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada prestasi akademik, tetapi juga memperkuat pembentukan karakter serta pelestarian budaya daerah sebagai bekal generasi muda menghadapi tantangan masa depan. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)