Batang - Pemerintah Kabupaten Batang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meresmikan program budidaya padi biosalin di lahan seluas 32 hektar di Dukuh Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang, Senin (1662026). Program ini menjadi langkah konkret menghidupkan kembali lahan terdampak rob yang selama bertahun-tahun tidak produktif.
Batang - Pemerintah Kabupaten Batang bekerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) meresmikan program budidaya padi biosalin di lahan seluas 32 hektar di Dukuh Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kabupaten Batang, Senin (16/6/2026). Program ini menjadi langkah konkret menghidupkan kembali lahan terdampak rob yang selama bertahun-tahun tidak produktif.
Peresmian program tersebut turut melibatkan berbagai pihak, di antaranya BRIN, Kementerian terkait, PT Pertamina (Persero), Pertamina Foundation, serta kelompok tani dan pemangku kepentingan lainnya. Selain budidaya padi biosalin, program ini juga mengembangkan sistem minapadi salin dengan budidaya ikan nila di kawasan pesisir dengan tingkat salinitas tinggi.
Bupati Batang M. Faiz Kurniawan mengatakan, Kabupaten Batang saat ini dikenal sebagai daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi yang ditopang industrialisasi dan pengembangan kawasan strategis. Namun demikian, pemerintah daerah tidak ingin mengabaikan persoalan masyarakat pesisir yang selama ini terdampak rob.
“Terdapat lebih dari 300 hektar lahan di dua kelurahan yang selama enam tahun terakhir tidak dapat digarap akibat genangan air laut dan tingginya kadar garam di tanah. Selama ini ada lahan lebih dari 300 hektar yang seperti tersimpan di dalam kotak Pandora, karena belum ada solusi nyata bagi para petani. Hari ini saatnya kita mengembalikan harapan itu,” jelasnya.
Ia menegaskan, peluncuran budidaya padi biosalin dan nila salin bukan sekadar program pertanian biasa, melainkan simbol kebangkitan kawasan pesisir Batang yang selama ini kehilangan produktivitas akibat rob.
“Ini bukan akhir, tapi permulaan baru bagi Kabupaten Batang. Kita hadir bersama untuk membuktikan bahwa lahan yang dulu dianggap mati dapat kembali menjadi ladang kehidupan,” terangnya.
Faiz juga menjelaskan, varietas padi biosalin yang dikembangkan memiliki ketahanan terhadap kadar garam tinggi dan genangan air pasang, sehingga dinilai cocok diterapkan di kawasan pesisir yang terdampak intrusi air laut.
Ia berharap, program ini tidak berhenti pada lahan percontohan seluas 32 hektar, tetapi dapat diperluas hingga menjangkau seluruh kawasan rob seluas lebih dari 300 hektar di Kabupaten Batang.
“Kami ingin para petani kembali memiliki harapan. Pemerintah pusat dan daerah punya komitmen untuk terus mendampingi, mulai dari penyediaan bibit hingga membuka akses pasar,” harapnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN RI, Yopi menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan agenda strategis nasional yang membutuhkan pendekatan inovatif dan berbasis ilmu pengetahuan, terutama di tengah tantangan perubahan iklim, intrusi air laut, serta alih fungsi lahan.
“Program Minapadi Salin bertema Green Manufacturing untuk Optimalisasi Lahan Salin Pesisir pada Kawasan Salinitas Tinggi menjadi contoh nyata penerapan hasil riset untuk menjawab tantangan di lapangan,” tuturnya.
Melalui pemanfaatan lahan salin yang selama ini dianggap terbatas, kita berhasil mengembangkan sistem budidaya terpadu yang mengombinasikan padi toleran salinitas, ikan nila salin, hingga rumput laut. Ini diharapkan mampu meningkatkan nilai ekonomi dan produktivitas masyarakat pesisir.
Ia juga menambahkan, BRIN tidak ingin hasil riset hanya berhenti di laboratorium, tetapi harus hadir di tengah masyarakat dan menjadi solusi nyata bagi persoalan daerah.
“Karena itu, BRIN mengapresiasi kolaborasi antara Pemkab Batang, Pertamina, akademisi, kelompok tani, hingga pemerintah pusat sebagai bentuk ideal hilirisasi inovasi berbasis riset. Kolaborasi ini menjadi model bagaimana hasil riset diterapkan langsung untuk meningkatkan produktivitas usaha tani, membuka peluang ekonomi baru, dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar dia.
Melalui program budidaya padi biosalin ini, Pemkab Batang berharap kawasan pesisir yang selama ini terdampak rob dapat kembali produktif, memperkuat ketahanan pangan daerah, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi petani dan masyarakat pesisir. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)