Batang - SMA Negeri 2 Batang terus memperkuat langkah menuju Sekolah Adiwiyata Nasional 2026, setelah sebelumnya di tahun 2024 meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi dengan menghadirkan berbagai program ramah lingkungan. Mulai dari bank sampah hingga pengolahan limbah menjadi eco enzyme diterapkan untuk membangun kepedulian lingkungan warga sekolah.
Batang - SMA Negeri 2 Batang terus memperkuat langkah menuju Sekolah Adiwiyata Nasional 2026, setelah sebelumnya di tahun 2024 meraih penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi dengan menghadirkan berbagai program ramah lingkungan. Mulai dari bank sampah hingga pengolahan limbah menjadi eco enzyme diterapkan untuk membangun kepedulian lingkungan warga sekolah.
Kepala SMAN 2 Batang Yulianto Nurul Furqon terus mengedukasi anak didik untuk memiliki kesadaran terhadap lingkungan belajar agar asri karena dipenuhi dengan tanaman apotek hidup yang kemanfaatannya dirasakan warga sekolah. Di samping itu, peserta didik bersama seluruh warga sekolah turut berpartisipasi dalam mengurangi sampah plastik, serta pemilahan sampah organik melalui bank sampah.
“Anak-anak langsung mempraktikkan cara pengolahan sampah menjadi pupuk kompos yang disiapkan di tempat khusus. Jadi tidak hanya menyosialisasikan Sekolah Ramah Lingkungan lewat teknologi informasi, tapi juga mengolah langsung sampah organik yang dihasilkan sekolah” katanya, saat mendampingi Workshop Kampanye Lingkungan Hidup, di Aula SMAN 2 Batang, Kabupaten Batang, Senin (11/5/2026).
Untuk mendukung proses menuju Sekolah Adiwiyata, SMAN 2 Batang mendapat kunjungan dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batang untuk menyosialisasikan pengelolaan sampah di lingkungan pendidikan.
“Ini gayung bersambut karena saat ini kami sedang berproses menuju Sekolah Adiwiyata, dengan mengedukasi anak didik agar peduli terhadap lingkungannya,” ungkapnya.
Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan (P2KL) DLH Batang Sri Eli Yuliani mengakui, SMAN 2 Batang sudah menunjukkan kepeduliannya dalam mewujudkan Sekolah Ramah Lingkungan. Hal ini penting karena sebagai langkah persiapan generasi z yayakan menjadi sumber penentu kebijakan di masa mendatang.
“Mereka juga harus ikut memelihara lingkungan hidupnya. Dari sisi kesiapan infrastrukturnya, dengan membuat bank sampah hingga menerapkan Jumat Non Emisi yakni siswa menuntun sepeda motor ketika memasuki lingkungan sekolah,” jelasnya.
Dari sisi pemanfaatan limbah sisa makanan, juga telah dikelola menjadi eco enzyme. Biasanya kulit buah dari sisa Makanan Bergizi Gratis (MBG) di sini sudah diolah jadi eco enzyme dari kulit buah atu sayuran menjadi pupuk alami.
Salah satu siswi, Anggita memandang edukasi terhadap masyarakat tidak hanya sebatas sosialisasi melalui media sosial, namun akan lebih mengena dengan terjun langsung mempraktikkannya. Pemanfaatan teknologi informasi juga penting untuk edukasi, namun mengubah pola pikir masyarakat menjadi lebih peduli terhadap lingkungan jauh lebih penting melalui teladan langsung.
“Misalnya di sekolah kami sudah memanfaatkan sampah botol air mineral diolah jadi barang berguna lainnya. Pemilahan dan pengolahan sampah organik jadi kompos juga turut mendukung SMAN 2 menjadi Sekolah Adiwiyata,” ujar dia. (MC Batang, Jateng/Heri/Jumadi)