Batang - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Batang Faelasufa Faiz terus memperkuat upaya percepatan pencegahan stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya melalui Program Pendampingan Gizi yang dijalankan bersama PT Nestlé Indonesia.
Batang - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Batang Faelasufa Faiz terus memperkuat upaya percepatan pencegahan stunting melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satunya melalui Program Pendampingan Gizi yang dijalankan bersama PT Nestlé Indonesia.
Program Pendampingan Gizi
yang dijalankan bersama PT Nestlé Indonesia tersebut berlangsung selama enam
bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026. Program ini memberikan pendampingan
kepada 598 keluarga dengan anak berisiko stunting, melibatkan 147 kader, serta
memberikan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di Kabupaten Karawang,
Batang, dan Pasuruan. Di Kabupaten Batang sendiri, pendampingan dan pemberian
gizi diberikan kepada sekitar 248 keluarga dengan anak berisiko stunting.
Ketua TP PKK Batang Faelasufa
Faiz menegaskan, bahwa tidak hanya pemberian gizi, pendekatan edukasi keluarga
dan pendampingan di tingkat desa menjadi kunci penting dalam upaya pencegahan
stunting.
“Bahwa persoalan stunting
sering kali tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan makanan, tetapi juga
kesenjangan pengetahuan mengenai pemenuhan gizi anak di tingkat keluarga. Banyak
ibu di desa sebenarnya memiliki akses terhadap bahan pangan lokal yang baik.
Tantangannya adalah bagaimana pengetahuan tentang gizi itu sampai ke keluarga.
Karena itu edukasi kepada para ibu menjadi sangat penting,†katanya saat
ditemui di Rumah Dinas Bupati Batang, Kabupaten Batang, Jumat (6/3/2026).
Berdasarkan pemantauan
bersama mitra akademisi, program tersebut menunjukkan hasil positif. Prevalensi
anak dengan berat badan kurang dan sangat kurang tercatat menurun hingga 22,5
persen pada penerima manfaat. Penurunan ini juga diikuti dengan perbaikan
indikator pertumbuhan anak serta meningkatnya pemahaman keluarga mengenai
pemenuhan energi dan gizi harian.
“Selain terlibat dalam
program pendampingan gizi, TP PKK Batang juga berperan aktif dalam Gerakan
Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING) yang merupakan program nasional yang
diinisiasi oleh BKKBN,†jelasnya.
Melalui program tersebut,
TP PKK Batang menjadi orang tua asuh bagi 272 anak-anak berisiko stunting
dengan memberikan pendampingan gizi secara langsung di tingkat desa.
Faelasufa juga menyebutkan,
bahwa dari 272 anak yang menjadi sasaran intervensi, sebanyak 268 anak atau
sekitar 98,5 persen mengalami kenaikan berat badan selama masa pendampingan.
“Hanya sekitar empat anak
yang belum mengalami kenaikan berat badan karena faktor medis tertentu, seperti
gangguan pencernaan atau infeksi saluran pernapasan,†ungkapnya.
Ia menambahkan, bahwa
keberhasilan program pencegahan stunting sangat bergantung pada keterlibatan
kader dan keluarga di tingkat desa. Program GENTING di Kabupaten Batang
dimonitor secara berkala.
“Berat Badan dan Tinggi
Badan anak didata sebelum program dimulai, dan selama program berlangsung. Tim
GENTING yang setiap hari memberikan makanan ke rumah-rumah anak berisiko
stunting, juga mendokumentasikan makanan yang diantarkan sebelum dan sesudah dikonsumsi
oleh anak asuh. Ini adalah upaya untuk memastikan pelaksanaan program berjalan
dengan efektif dan tepat sasaran,†terangnya.
Ketika kader PKK,
Posyandu, PLKB dan keluarga bergerak bersama, intervensi gizi yang berkualitas
bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anak-anak di lapangan.
Faelasufa juga
mengapresiasi keterlibatan berbagai pihak, termasuk sektor swasta, dalam
memperkuat edukasi gizi kepada masyarakat. Kolaborasi seperti ini penting agar
edukasi dan pendampingan gizi bisa menjangkau lebih banyak keluarga.
Pelaksana tugas (Plt) Direktur
Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN Dyuni Hastutiningsih menilai
kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta memiliki nilai
strategis dalam memperluas jangkauan program pencegahan stunting.
“Kolaborasi lintas sektor
sangat penting untuk mempercepat perubahan perilaku dan memastikan intervensi
gizi menjangkau lebih banyak keluarga Indonesia,†ujar dia.
Program pendampingan ini
berfokus pada deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik.
Intervensi dilakukan melalui makanan bernutrisi setiap hari selama enam bulan,
disertai edukasi keluarga serta pemantauan rutin pertumbuhan anak. (MC Batang,
Jateng/Roza/Jumadi)