Batang - Palang Merah Indonesia (PMI) Batang menggelar Musyawarah Kerja guna menyusun program dan target kegiatan tahun 2026 di Aula PMI Kabupaten Batang, Kamis (5/3/2026).
Batang - Palang Merah Indonesia (PMI) Batang menggelar Musyawarah Kerja guna menyusun program dan target kegiatan tahun 2026 di Aula PMI Kabupaten Batang, Kamis (5/3/2026).
Ketua PMI Batang Achmad
Taufiq mengatakan, sejumlah program sosial akan terus diperkuat sebagai bentuk
komitmen PMI dalam membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Salah satu program
unggulan yang dilanjutkan adalah renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Pada
tahun 2025, PMI Batang berhasil merealisasikan renovasi sebanyak 33 unit rumah
dari target awal 30 unit untuk kategori regular,†jelasnya.
Selain itu, PMI juga
memberikan bantuan non-reguler berupa dukungan finansial bagi warga yang
rumahnya mengalami kerusakan akibat bencana, seperti tertimpa pohon. Bantuan
yang diberikan berkisar antara Rp5 juta hingga Rp10 juta.
“PMI juga melakukan
penanganan masalah sosial, seperti kunjungan ke keluarga dengan anak stunting
serta membantu transportasi dan biaya pengobatan bagi keluarga kurang mampu
yang membutuhkan layanan rumah sakit,†terangnya.
Di bidang pelayanan
kesehatan, PMI Batang melalui Unit Donor Darah (UDD) menargetkan dapat meraih
sertifikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM).
Sementara itu, Kepala UDD
PMI yang bertugas di RSUD Batang Edi Samiaji menjelaskan, bahwa sertifikasi
CPOB bertujuan menjamin keamanan, mutu, dan kualitas pengolahan darah agar
setara dengan standar pembuatan obat.
“Saat ini di Jawa Tengah
baru wilayah Surakarta dan Banyumas yang telah memiliki sertifikasi tersebut.
Kami menargetkan PMI Batang dapat mencapainya pada tahun 2027,†tuturnya.
Ia menambahkan, jika
sertifikasi tersebut berhasil diraih, UDD PMI Batang berpotensi menjadi pemasok
darah bagi sejumlah rumah sakit di wilayah sekitar, seperti Pekalongan, Kendal,
Pemalang, hingga Tegal.
“Selain itu, PMI Batang
juga berpeluang memproduksi plasma darah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku obat-obatan,†ujar dia.
Meski demikian, upaya
mencapai target tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama terkait
kebutuhan pendanaan dan sarana prasarana.
“Untuk memenuhi standar
CPOB, dibutuhkan dana sekitar Rp4 miliar guna pengadaan tiga hingga empat alat
medis utama,†ungkapnya.
Di samping itu,
peningkatan fasilitas gedung serta penambahan lahan juga diperlukan guna
mendukung proses produksi dan distribusi darah yang lebih luas di masa
mendatang.
“Melalui musyawarah kerja
ini, PMI Batang berharap seluruh program kemanusiaan dan pelayanan kesehatan
dapat berjalan lebih optimal serta memberikan manfaat yang lebih luas bagi Masyarakat,â€
pungkasnya. (MC Batang, Jateng/Roza/Jumadi)